MINGGU, 28 FEBRUARI 2016
Jurnalis: Aceng Mukaram / Editor : ME. Bijo Dirajo / Sumber foto: Aceng Mukaram
MELAWI — Elisabet, seorang warga Desa Nanga Kalan, Kecamatan Ella Ilir, Kabupaten Melawi, Provinsi Kalimantan Barat, datang ke pusat ibukota kabupaten di Nanga Pinoh. Wanita berumur 56 tahun ini datang bersama 5 anak, dan 8 cucunya. Ia mengendarai sepeda motor dari desa yang jaraknya 80 kilo meter ke Kabupaten Melawi.
![]() |
| Pedagang baju bekas |
Tujuan datang ke kota Nanga Pinoh (ibukota kabupaten Melawi) ?untuk “berwisata”. Wisata yang dilakukan oleh Elisabet bukan hal biasa. Wisata, menurutnya, adalah membeli baju bekas asal Malaysia.
“Ini wisata bagi kami. Karena tempat wisata di sinikan masih sedikit, jadinya wisatanya beli bekas aja. Kami menyebutnya baju bekas itu lelong,” ujarnya, saat ditemui, Cendana News, di tempat penjualan bekas Malaysia di Jalan Juang, Kecamatan Nanga Pinoh, Kabupaten Melawi, Minggu 28 Februari 2016.
Tak ingin menyia-nyiankan waktu, ia membeli baju bekas dalam jumlah banyak. Sebab, jarak tempuh yang jauh, membuatnya harus membeli baju bekas sebanyak-banyaknya.
“Ini baju saya pakai sehari-hari. Ada juga yang pesan tetangga. Satu baju kaos yang saya beli Rp.25ribu, celana jeans, daster Rp.35ribu,” ujarnya.
Bagi Elisabet, baju bekas Malaysia suatu kebutuhan. Karena baju yang dijual di toko baju sangat mahal harganya.
“Kualitas baju bekas ini bagus sekali. Bisa tahan lama. Saya biasanya cuci dulu pakai air panas dan direndam selama 1 jam,” kata Elisabet.
Dalam sebulan, Elisabet, membeli baju bekas Malaysia sebanyak empat kali.
“Satu minggu sekali saya beli baju bekas ini,” katanya.

Sementara itu, menurut penjual baju bekas Malaysia bernama Haris, mengakui, jika baju bekas ini berasal dari Malaysia yang dikirim sebulan sekali.
“Satu bulan dikirim kesini bajunya. Selain baju, ada juga sepatu. Pemilik baju bekas banyak. Bukan satu. Ya saya hanya jual saja. Saya dapat keuntungan dalam sebulan Rp.30 juta,” ucapnya.