UMengajar goes to Lapas Berbagi Ilmu pada Narapidana

SELASA, 1 MARET 2016
Jurnalis: Agus Nurchaliq / Editor : ME. Bijo Dirajo / Sumber foto: Agus Nurchaliq

MALANG — Memperoleh pendidikan adalah hak setiap warga negara, tidak terkecuali bagi para penghuni Lembaga Pemasyarakatan (Lapas). Berlatar belakang hal tersebut, organisasi sosial yang bergerak di bidang pendidikan di bawah bendera kampus Universitas Malang luncurkan ” UMengajar goes to Lapas” untuk berbagi ilmu dan juga pengetahuan kepada para penghuni Lapas Klas 1 Malang yang berada di Jalan Asahan No.7.
Lapas klas I Malang
Pengurus UMengajar, Nur Annisa Widia Iswara menyebutkan, “UMengajar goes to Lapas” merupakan salah satu bentuk pengabdian terhadap masyarakat. Hal ini juga baru pertama kalinya di lakukan di lembaga pemasyarakatan.
“Biasanya kami melakukan pengabdian di sekolah-sekolah yang berada di daerah terpencil, namun sekarang kita coba melakukan pengabdian di Lapas,”ujarnya kepada Cendana News, Senin (29/2/2016).
Nisa menceritakan, awal mula adanya kegiatan ini terinspirasi dari salah seorang alumni Mahasiswa Universitas Negeri Malang dan sekarang menjadi anggota SM3T (Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal) yang dulunya juga pernah melakukan pengabdian di lapas yang sama. Dalam pelaksanaannya pihak lapas sendiri menyambut baik niat kegiatan tersebut.
“Bahkan mereka juga menyediakan ruangan dan alat tulis bagi penghuni lapas yang bersedia mengikuti kegiatan kami. Selain itu, pihak lapas juga memberikan jaminan keamanan selama kami berada disana,” ungkapnya.
Pengajar dari UMengajar
Nisa menjelaskan bahwa selama mengajar di lapas ia bersama 19 orang anggota UMengajar setiap harinya secara bergantian mengajarkan materi-materi ujian Nasional kejar Paket A, B dan C.
“Kami mengajar dengan durasi dua sampai dua setengah jam perharinya mulai pukul 9.00 hingga 11.30 WIB, setiap hari kecuali hari Jumat dan Minggu”jelasnya.
Ia menambahkan bahwa kegiatan UMengajar goes to Lapas sudah berjalan selama satu minggu dan akan berlangsung selama satu bulan. Namun ada kemungkinan diperpanjang menjadi dua bulan tergantung kesepakatan dari pihak lapas.
Sementara itu, seorang pengajar UMmengajar, Wilis Rahayu mengaku sempat merasa tegang dan sedikit takut saat pertama kali mengajar di lapas. Namun melihat antusias penghuni dalam memperhatikan materi yang ia sampaikan, membuat kekhawatiran itu menghilang dengan sendirinya.
“Bahkan lebih kritis dan aktif bertanya daripada murid-murid di sekolah pada umumnya. Jumlah mereka memang tidak terlalu banyak hanya berkisar 10-20 orang dengan usia antara belasan tahun sampai dengan 30 tahun, namun sikap mereka sangat sopan menerima kehadiran kami,” akunya.
Selain mengajar, pihaknya juga memberikan motivasi agar tidak putus asa dan tidak merasa minder saat nanti mereka kembali lagi ke tengah-tengah masyarakat.
Lihat juga...