Produktifitas Sentra Buah Buah Naga di Kecamatan Sragi Menurun

SENIN, 1 FEBRUARI 2016
Jurnalis: Henk Widi / Editor: Sari Puspita Ayu / Sumber foto: Henk Widi
LAMPUNG—Produktifitas buah naga jenis buah naga merah di Kecamatan Sragi terutama di Desa Mandalasari dan Desa Margajasa mengalami penurunan pada musim panen awal tahun ini. Penurunan produktifitas tanaman buah naga tersebut menurut salah satu pemilik kebun buah naga, Maimunah (35) disebabkan faktor cuaca yang tak mendukung untuk pertanian tanaman buah naga. Cuaca kemarau dan kurangnya curah hujan membuat beberapa tanaman buah naga milik petani menghasilkan buah yang sedikiti dibandingkan tahun sebelumnya.

Maimunah

Maimunah mengungkapkan selain faktor cuaca yang mengakibatkan petani kesulitan memasok air untuk pertumbuhan tanaman naga dan buahnya, petani mengaku tanaman naga yang mereka tanam mengalami serangan hama seperti burung, tupai, ulat serta hama lain. Kondisi tersebut mengakibatkan petani harus bermalam di kebun dengan membuat kebun untuk menjaga tanaman buah naga yang sudah panen tersebut. Maimunah mengaku dalam kondisi normal tanaman buah naga yang ditanamnya bisa menghasilkan buah sekitar 75-100 buah lebih pertriwulan.
“Kita biasa memanen seminggu sebanyak 15 buah dan kita kumpulkan lalu kita jual dengan cara menjual eceran di pinggir jalan atau di warung dan terkadang ada penjual yang khusus mengambil buah naga untuk dijual lagi,”ungkap Maimunah saat ditemui di kebunnya, Senin (1/2/2016)
Sebagai petani buah naga di sentra penanaman buah naga Kecamatan Sragi, ia mengaku memiliki sebanyak 350 batang tanaman naga. Sementara petani lain bisa memiliki tanaman naga hingga 1000 batang sesuai lahan dan kemampuan permodalan. Kondisi cuaca dan hama yang terjadi pada penghujung tahun 2015 telah mengakibatkan penurunan jumlah panen padahal buah naga miliknya selalu banyak mendapat pesanan dari sejumlah daerah terutama menjelang perayaan tahun baru etnis Tionghoa.
“Kalau menjelang tahun baru Imlek banyak yang membeli dan bisa kami penuhi dalam jumlah banyak namun saat ini permintaan tak bisa kami penuhi,” ungkap Hasan, salah satu petani lain di Sragi.
Hasan mengaku sering mendapat pelanggan dari wilayah Bandarlampung, Bandarjaya serta wilayah Pringsewu menjelang perayaan tahun baru Imlek. Pembeli biasanya sudah memesan jauh hari dengan memberikan uang muka agar saat panen masih memperoleh buah naga yang diinginkan. Selama musim panen kali ini ia mengaku menjual buah naga dengan harga Rp10-Rp15ribu perkilogram tergantung kualitas buah yang dijualnya.
“Selain pesanan kami juga menjual buah naga di depan rumah dan berharap pengendara kendaraan yang lewat membeli untuk oleh oleh atau dimakan dan biasanya kami siapkan contoh untuk dimakan serta dicicipi,”ungkap Hasan.
Hasan
Penurunan jumlah hasil panen buah naga miliknya diakui Hasan masih terjadi pada awal tahun ini. Ia berharap dengan mulai datangnya musim pengujan meski dengan intensitas sedang akan memberikan perbaikan pada produksi buah naga pada musim panen selanjutnya.
Kecamatan Sragi Menjadi Sentra Pertanian Buah Naga
Masyarakat di Desa Margajasa dan Desa Mandalasari Kecamatan Sragi yang merupakan salah satu kecamatan di Lampung Selatan yang menjadi sentra penanaman buah naga telah lama melakukan budidaya buah naga. Warga Desa Mandalasari dan Margajasa awalnya mulai melakukan pembibitan dengan menggunakan polibag untuk selanjutnya ditanam di areal yang mereka miliki yang sebagian merupakan tanah perkebunan.
Terlebih karena hal tersebut merupakan himbauan dari pihak kecamatan agar masyarakat dua desa tersebut menanam buah naga di pekarangan rumah. Karenanya masyarakat pun mulai  menyiapkan bibit buah naga sebanyak mungkin untuk persiapan pengembangan buah yang menjadi ikon Kecamatan Sragi itu. Hingga saat ini tercatat lahan buah naga di dua desa di kecamatan tersebut masih berkisar puluhan hektar yang tersebar di sejumlah lahan milik warga.
Kristiono
“Jika semakin banyak masyarakat yang menanam buah naga, saya yakin masyarakat akan lebih sejahtera dengan berkebun buah naga. Lebih baik mengembangkan potensi yang ada, dari pada harus menggali potensi yang lain dan belum pasti,”kata Tugiman, salah seorang warga Margajasa yang sudah memiliki tanaman buah naga sekitar 100 batang.
Selain itu hal tersebut bertujuan untuk mengembangkan wilayah setempat dan memiliki nilai tersendiri hingga dikenal orang banyak. Apalagi Kecamatan Sragi terus memanfaatkan potensi budidaya buah naga menjadi objek agro wisata didaerah itu. Saat ini luas budidaya buah naga didaerah itu mencapai 20 hektar yang tersebar di dua desa.
“Adanya langkah-langkah seperti ini maka tujuan pemerintah Kecamatan Sragi untuk menciptakan agro wisata buah naga ini akan segera terwujud. Untuk saat ini hampir setiap rumah sudah menanam buah naga ini,”ujarnya.
Kristiono (45) salah seorang petai buah naga di Desa Margajasa mengatakan, sangat mendukung apa yang menjadi program pemerintah untuk menjadikan desanya sebagai tempat agro wisata. Dengan agro wisata buah naga tersebut, Ia berharap kedepan orang datang ke Kecamatan Sragi untuk membeli bahkan dapat memetik buah naga sendiri bersama sanak saudaranya. Ada kepuasan tersendiri bagi konsumen yang dapat langsung merasakan memetik serta berekreasi diperkebunan buah naga milik masyarakat sekitar.
“Desa kami akan lebih terkenal dan untuk masalah ekonomi secara otomatis akan ikut teratasi. Sebenarnya saat ini sudah bisa dijadikan tempat agro wisata akan tetapi belum maksimal. Sebab, pohon yang baru ditanam beberapa minggu terakhir belum ada bakal buahnya. Sedangkan tanaman yang ada juga sudah tidak ada lagi buahnya, mengingat saat ini sudah memasuki masa peremajaan tanaman,”ungkapnya.
Pantauan Cendana News, kini Desa Margajasa dan Mandalasari yang merupakan wilayah transmigrasi yang sebagain besar dari wilayah Jawa Barat dikenal sebagai lokasi yang memiliki kekhasan ebagai sentra buah naga. Bahkan warga di Lampung Selatan  sebagian besar mencari buah naga langsung ke petani untuk memperoleh buah naga yang masih segar dan bisa dipetik langsung dari kebun.
Lihat juga...