Potret Sekolah di Lampung Selatan, Minim Fasilitas Hingga Belajar di Lorong

SABTU, 13 FEBRUARI 2016
Jurnalis : Henk Widi / Editor : ME. Bijo Dirajo/ Foto: Henk Widi 

LAMPUNG — Pendidikan yang merupakan hak dasar setiap warga negara masih menghadapi berbagai rintangan, mulai dari minim fasilitas hingga keterbatasan lokal yang menyebabkan proses kegiatan belajar mengajar (KBM) dilaksanakan di lorong.
Belajar di lorong kelas

Di Lampung Selatan, terdapat dua sekolah yang terbilang memprihatinkan, yakni Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nurul Hidayah dengan NIM.111.218.010 di Desa Padan, Penengahan dan Sekolah Dasar Negeri (SDN) Babulang di Kalianda. 

Kepala Sekolah MI Nurul Hidayah, Siti Nurjannah menyebutkan, saat ini pihaknya hanya memiliki dua lokal yang diperuntukan bagi anak didik dari kelas I hingga VI. Menyikapi keterbatasan, digunakan sekat dari tripleks. [Berita Foto: Minim Lokal, Tak Surutkan Semangat Siswa Belajar]
“Kami terpaksa menggunakan kelas dengan cara disekat triplek dan papan untuk membagi kelas yang lokalnya kurang, meski minat belajar siswa sangat tinggi,”ungkapnya  kepada Cendana News, Sabtu (13/2/2016).
Disebutkan juga, meski telah disekat, namun ruangan belajar belum mencukupi, ruang guru juga digunakan untuk mengajar murid kelas I. Yang lebih memprihatinkan, enam orang murid kelas II terpaksa belajar di lorong kelas.
“Sebanyak enam orang murid kelas II terpaksa belajar di lorong karena ruangan lain sudah digunakan, ini sudah terjadi selama bertahun tahun semenjak sekolah ini berdiri,”ungkap Siti Nurjannah.
Dikatakan, pihaknya sudah beberapa kali meminta bantuan ke Kementrian Agama melalui Departemen Agama Kabupaten Lampung, namun gayung belum bersambut. Salah satu usaha yang tengah dilakukan, yakni mencari donatur untuk pembangunan lokal baru agar murid tak lagi belajar di ruangan terbatas.
Guru kelas V, Busyro menambahkan, minimnya ruang kelas di sekolah tingkat dasar tersebut tak menyurutkan para orangtua untuk menyekolahkan anak anaknya. Warga menilih MI karena kualitas meski bangunan sangat memprihatinkan.
“MI Nurul Hidayah diakui lebih baik dari sekolah tingkat dasar lain dalam hal kualitas, namun ya itu keterbatasan lokal,”ujarnya.
MI Nurul Hidayah berdiri sejak 2000, awalnya masih berupa bangunan papan kayu. Pembangunan dilakukan dengan bantuan dari pemerintah melalui Kementerian Agama. Pada tahun ajaran 2015/2016 ini jumlah siswa MI Nurul Hidayah mencapai 89 murid dari kelas I hingga kelas VI.
Atap dan loteng sekolah yang rusak

Sementara itu, Sekolah Dasar Negeri (SDN) Babulang yang berada di Kecamatan Kalianda Lampung Selatan (Lamsel) juga mengalami hal serupa dengan MI Nurul Hidayah yang jarak sekolahnya hanya dua kilometer, yakni hanya memiliki tiga ruangan kelas.

“Dengan ruang kelas yang hanya ada 3 unit itu kami terpaksa harus membuat sekat disetiap kelasnya supaya satu unit ruang kelas bisa menjadi dua ruang kelas” ujar Kepala Sekolah (Kepsek) SDN Babulang, Suradi.
Selain ruangan yang sedikit, SD yang didirikan tahun 1997 itu juga memiliki jumlah murid yang sangat minim. Berdasarkan data sekoalh tersebut pun hanya memiliki sebanyak 22 siswa diantaranya kelas I sebanyak 1 siswa, kelas II sebanyak  6 siswa, Kelas III sebanyak 3 siswa, kelas IV sebanyak 4 siswa, kelas V sebanyak 3 siswa, dan kelas VI sebanyak 5 siswa. Pegawai yang mengajar di Sekolah tersebut hanya 5 orang, sudah termasuk Kepala sekolah dan Pegawai tata Usaha (TU).
Suradi mengatakan, minimnya jumlah siswa di Sekolah tersebut lantaran kondisi sekolah yang lokasinya sulit dijangkau, karena tepat di kaki Gunung Rajabasa.
Pantauan Cendana News, selain kondisi bangunan sekolah yang minim, tampak bekas ruang yang digunakan sebagai rumah guru SD Babulang sudah tak digunakan lagi dan beberapa bagian bangunan diantaranya plafon dan genteng sudah rusak.
Lihat juga...