Mahasiswa di Bali Ciptakan Ogoh-ogoh Berbasis Aplikasi Smartphone

MINGGU, 28 FEBRUARI 2016
Jurnalis : Bobby Andalan / Editor : ME. Bijo Dirajo /  Sumber Foto: Bobby Andalan

BALI — Menjelang hari raya Nyepi yang jatuh pada 9 Maret 2016, sejumlah warga di Bali membuat ogoh-ogoh atau patung raksasa yang menggambarkan Bhutakala. Dalam ajaran Hindu, Bhutakala merepresentasikan kekuatan (Bhu) alam semesta dan waktu (Kala) yang tak terukur dan tak terbantahkan.
Ogoh-ogoh
Ogoh-ogoh akan diarak keliling kota pada malam pengrupukan atau satu malam sebelum perayaan Nyepi. Biasanya, ogoh-ogoh hanya dibuat dari bahan biasa, bisa menggunakan anyaman dari bambu, bisa pula menggunakan stereoform. Untuk menggerakkannya, dibuatkan kayu penyangga.
Namun, di Banjar Kaja, Jalan Waturenggong, Denpasar, seorang pemuda bernama Made Dwi Krisna membuat aplikasi yang dapat menggerakkan ogoh-ogoh menggunakan smarphone melalui bluetooth.  Krisna bagian kelompok pemuda STT Sharma Laksana. Anak-anak muda di sini membuat ogoh-ogoh yang diberu judul Sang Tiga Buchari yang terdiri dari Dewa Siwa, Dyah Marakresna, Sang Bajradaksa dan Sang Bajrangkara. 
“Idenya untuk mengembangkan ogoh-ogoh dengan teknologi yang ada. Kalau ogoh-ogoh bergerak sebenarnya sudah ada dan biasa. Tapi kami buat yang berbeda, khususnya bagaimana bisa menggerakkan ogoh-ogoh dari jarak jauh,” ujar Krisna ditemui di banjarnya.
Mahasiswa Elektro Universitas Udayana ini melanjutkan, dengan bantuan bluetooth dan aplikasi yang dipasang di smartphone, ada enam gerakan yang bisa diatur, yakni gerak badan dan kepala (bersamaan), standby, kontrol total untuk semua bergerak sekaligus, standby tangan, gerak badan dan gerak kepala.
“Pakai arduino mega sebagai alat dan penyedia aplikasi. Untuk komunikasinya dengan bluetooth. Smartphone android atau iOS sebagai transmitter yang dikoneksikan ke bluetooth yang kemudian diolah oleh arduino sebagai receiver,” terangnya.
Pemuda STT Dharma Laksana mulai membuat ogoh-ogoh ini sejak 5 Januari 2016 atau menghabiskan waktu selama dua bulan.
“Baru rampung beberapa hari lalu dan dinilai oleh Dinas Kebudayaan Kota Denpasar,” tutur Krisna. 
Sementara itu, Ketua STT Dharma Laksana, I Putu Gede Susantana menuturkan, total biaya yang dihabiskan untuk membuat ogoh-ogoh itu, menyebutnya sekitar Rp 14 juta. Dana bersumber dari hasil swadaya masyarakat sekitar banjar. Biaya tersebut sudah termasuk rangkaian mesin untuk menggerakkan ogoh-ogoh.
“Kurang lebih Rp 14 juta. Cukup mahal untuk beli alatnya dan belinya di Jakarta,” ujar Susantana.
Lihat juga...