KAMIS, 18 FEBRUARI 2016
Jurnalis : Henk Widi / Editor : ME. Bijo Dirajo/ Foto: Henk Widi
LAMPUNG — Upaya melestarikan tanaman di kawasan hutan menjadi perhatian bagi Komarudin (44), warga Desa Rawi, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, Provinsi Lampung. Sebagai salah satu petugas di Pusat Persemaian Permanen sebagai penyedia jutaan bibit, ia tetap melakukan upaya pembibitan berbagai jenid tanaman kayu, tanaman buah buahan di sekitar rumahnya yang terletak di kaki Gunung Rajabasa. Selain berbagai tanaman kayu yang masih tetap dibudidayakan masyarakat secara khusus, Komar tetap melakukan pembibitan beberapa tanaman langka dan hampir punah yang ada di Indonesia dan di Lampung.
![]() |
| Komarudin |
Saat ini Komarudin mengaku kerpihatinan terkait sudah semakin langkanya beberapa tanaman yang semasa kecil masih sering dijumpai membuatnya terus melakukan pembibitan beberapa tanaman langka. Beberapa tanaman langka yang sudah jarang ditemui bahkan harus “diburu” hingga ke daerah lain. Ia bahkan mengaku beberapa tanaman yang sudah dibudidayakan diantaranya Gaharu (Aquilaria moluccensis), Gandaria (Bouea macrophylla),Lada (Piper nigrum),Pala (Myristica fragrans) Kenanga (Cananga odorata).
“Saya melakukan pencarian bibit dan beberapa diantaranya saya cari di wilayah luar Lampung dan setelah menjadi bibit saya berikan kepada pekebun atau petani secara cuma cuma untuk ditanam di lahan mereka,”ungkap Komarudin di rumahnya kepada Cendana News, Kamis (18/2/2016).
Saat ini ia sudah melakukan pemetaan terkait beberapa tanaman yang selama ini sudah langka di wilayah Lampung Selatan berdasarkan wilayah penyebaran. Beberapa yang sedang dikembangkan diantaranya tanaman endemik wilayah Gunung Tanggamus diantaranya Kilada atau dikenal masyarakat lokal wilayah Lampung dengan Sintok (Cinnamomum sintok). Pohon hutan yang tingginya mencapai 35 meter tersebut menurut Komar saat ini sudah jarang dibudidayakan petani dan masih dijumpai di hutan hutan kawasan tertutup.
“Ciri khas pohon ini daunnya wangi seperti cengkeh dan ini memiliki banyak khasiat selain sebagai tanaman obat, penghijauan serta sumber untuk mata air yang akan menjaga ketersediaan air di masa mendatang,”ungkap Komar.
Saat ini ia sudah menyiapkan ribuan bibit berumur sekitar 6 bulan yang siap dibagikan kepada para petani dan pekebun di kawasan sekitar hutan lindung Gunung Rajabasa. Keinginannya untuk melestarikan tanaman Kilada mengingat tanaman tersebut nyaris punah dan belum ada campur tangan manusia untuk pembibitannya.
Selain tanaman Kilada, Komar juga menyiapkan bibit tanaman sengon, tanaman petai, tanaman cengkeh, kopi coklat serta beberapa tanaman endemis Kalianda diantaranya tanaman Gayam, Medang, merbau, Damar mata kucing, Babulang, Kecapi, Namnam, Raman, Loba Lobi, cermain, Seungkuk, Rukum dan tanaman lain. Beberapa tanaman khas tersebut bahkan menurut Komar bahkan menjadi nama daerah yang hingga kini masih dipertahankan.
“Kita prihatin banyak yang tak mengetahui lagi nama nama desa di Lampung berasal dari nama tanaman dan nama daerahnya masih ada tapi tanamannya tidak ada lagi, seperti Gayam, Kecapi, merbau Mataram kan nama desa tapi tanamannya nyaris punah bahkan tak ada lagi,”keluh Komar.
Komar mengaku selain karena tanaman tanaman tersebut merupakan tanaman khas Lampung. Ia bahkan sedang meminta izin kepada Kementerian Kehutanan untuk meminta lahan seluas lima hektar di wilayah tanah Register I Way Pisang sebagai tanaman percobaan yang akan terus dikembangkan.
“Saya prihatin tanaman ini semakin langka dan sudah jarang ditanam masyarakat Lampung sehingga saya tergerak melakukan pembibitan tanaman endemik asli Lampung ini dan agar anak cucu kita masih bisa menikmati berbagai tanaman yang pernah hidup di Lampung,”ungkap Komar.
Saat ini Komar mengaku mengambil bibit dari buah kayu Kilada dari lereng Gunung Tanggamus dan sudah mulai membibit kayu Kilada sebanyak 1000 batang yang ditanam dalam media polibag. selain itu jutaan bibit lainnya dikembangkan Komar dengan cara sederhana dan modern diantaranya di persemaian modern. Beberapa tanaman buah bahkan tumbuh subur di halaman miliknya diantaranya buah Jambu Jamaica, buah Matoa serta tanaman buah lainnya.
Penyediaan lahan untuk penanaman tanaman langka Kilada menurut Komar seperti halnya lokasi persemaian permanen yang ada di Lampung Selatan dikonsep wisata berbasis kehutanan. Selain bisa melakukan proses penanaman bersama siswa siswa sekolah kawasan hutan ditanamnya tanaman Kilada selain di Register 1 Way Pisang juga akan ditanam di Register 3 Gunung Rajabasa.
Kawasan hutan lindung Register 3 Gunung Rajabasa selama ini dimanfaatkan untuk pemeliharaan tanaman penyangga sumber air serta tanaman lain untuk penghijauan. Kawasan wisata hutan Gunung Rajabasa telah dikenal diantaranya kawasan hutan lindung yang memiliki air terjun, sumber mata air panas serta lokasi pendakian ke puncak Gunung Rajabasa.

Dinas Kehutanan Provinsi Lampung Kembangkan Agroforestry Park
Upaya pelestarian berbagai tanaman langka oleh Komar juga didukung oleh Dinas Kehutanan Provinsi Lampung. Kabupaten Lampung Selatan menjadi percontohan pengembangan pola kehutanan berbasis wisata dan pertanian dengan melaksanakan program penanaman berbagai jenis pohon langka dan hampir punah di kawasan yang berada tak jauh dari pesisir pantai Kalianda Kabupaten Lampung Selatan.
Program penanaman di kawasan Agroforesty Park tersebut sebelumnya sudah diawali oleh Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Lampung, Sutono. Bersama ratusan mahasiswa Institut Pertanian Bogor asal Lampung Sutono melakukan penanaman berbagai jenis pohon langka serta hampir punah.
Menurut Sutono beberapa tanaman langka tersebut sengaja ditanam kembali karena sudah sedikit orang yang menanamnya. Mantan sekretaris daerah Kabupaten Lampung Selatan itu bahkan berharap akan ada lembaga-lembaga lain yang memiliki kepedulian untuk menanam berbagai jenis pohon di lokasi tersebut.
“Kita menyediakan lahan ini bekerjasama dengan Grand Elty yang masih memiliki lahan cukup luas. Bagi yang akan menanam silakan karena kawasan ini memang diperuntukkan untuk ditanami pohon dan program ini sejak dicanangkan sudah berjalan dua tahun,”ungkap Sutono.
Gagasan menjadikan kawasan seluas 30 hektar tersebut merupakan langkah yang diambil menyesuaikan dengan pola penanaman di kebun raya Bogor serta kebun kebun raya lainnya. Dalam satu kawasan akan dijumpai berbagai jenis tanaman terutama tanaman yang sudah hampir punah atau langka.
Sutono menjelaskan, berbagai tanaman yang sebelumnya sudah ditanam bersama mahasiswa IPB diantaranya Damar, Matoa, Kluwek, Cendana, serta tanaman langka lainnya.
Tidak hanya para mahasiswa yang telah melakukan penananaman pohon pohon di lokasi yang sudah disediakan. Bahkan organisasi guru yang ada di Lampung Selatan juga melakukan penanaman pohon. Gerakan ini tak akan berhenti dan akan terus dilakukan. Menurut Sutono yang juga ketua DPD Perhimpunan Tani (Perhiptani) Lampung Selatan ini kegiatan tersebut akan terus dilakukan.
Sutono mengungkapkan Perhiptani Lampung telah melakukan kerjasama dengan Grand Elty untuk pemanfaatan kawasan tersebut sebagai lokasi Agroforesty Park. Agroforestry merupakan gabungan ilmu kehutanan dan agronomi yang memadukan usaha kehutanan dengan usaha tanaman produksi, untuk menciptakan keselarasan antara intensifikasi pertanian dan pelestarian hutan.
Agroforestry park pertama di Lampung ini akan ditanami tanaman pangan seperti jagung dan umbiumbian, hortikultura, bunga-bungaan, tanaman perkebunan, tanaman hutan jenis langka, jati, jabon, sengon, buah-buahan, dan singkong. Selain itu berbagai jenis pohon langka.
Krakatoa Nirwana Resort sendiri merupakan merupakan kawasan resor terintegrasi seluas 350 hektare yang dikembangkan oleh Bakrieland Unit Usaha Hotels dan Resorts, berlokasi di Kalianda, Lampung Selatan.
Kawasan yang akan dikembangkan sebagai kawasan hutan wisata ini dari pantauan Cendananews.com merupakan kawasan yang berdekatan dengan lokasi wisata Pantai Merak Belantung, Kalianda Resort, Pantai Beo, Pantai Bagus yang semuanya adalah lokasi wisata pantai cukup dikenal di Lampung Selatan.
Penanaman berbagai jenis tanaman langka dari beberapa wilayah di Indonesia menurut Sutono akan dilanjutkan dengan penambahan berbagai tanaman langka lainnya. Beberapa tanaman langka yang juga berasal dari Lampung pun segera disiapkan dan penanaman tak hanya di lokasi agroforestry park Kalianda juga akan dikembangkan beberapa lokasi milik Dinas Kehutanan dan Kementerian Kehutanan.