Kekayaan Ladang Migas Melimpah, Warga Kepulauan Raas Tetap Hidup Miskin

SENIN, 8 FEBRUARI 2016
Penulis : Fahrul / Editor: Gani Khair / Sumber foto: Fahrul

CATATAN JURNALIS—Kekayaan sumber minyak dan gas (Migas) rupanya belum menjamin masyarakat hidup sejahtera, seperti yang dialami warga Kepulauan Raas, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Mereka banyak hidup dibawah garis kemismikan, meskipun sudah lama menjadi daerah dampak dari perusahaan tersebut kehidupan masyarakat masih saja belum ada perkembangan. Bahkan hidupnya semakin sengsara.

Tokoh Pemuda asal Kepulauan Raas, Kabupaten Sumenep, Fauzi Muhfa

Keberadaan sumber minyak dan gas (Migas) yang melakukan eksplorasi maupun eksploitasi di daerah tersebut membuat wilayah pencarian ikan para nelayan semakin sempit.

 Karena di wilayah yang biasanya menjadi ladang nelayan mencari nafkah. kini sudah berdiri perusahaan yang melakukan aktifitas pengeboran minyak dan gas (Migas), sehingga nelayan harus menjauh dari tempat tersebut. 

Menurut Tokoh Pemuda asal Kepulauan Raas, Kabupaten Sumenep, Fauzi Muhfa mengatakan, sebenarnya selaku masyarakat daerah setempat merasa keberatan dengan banyaknya perusahaan yang beraktifitas di wilayah kepulauan, karena kompensasi dari perusahaan tersebut belum mampu merubah perekonomian masyarakat, bahkan mereka tetap saja miskin, walaupun kekayaan daerah sudah dikeruk.

“Sebagai orang daerah saya sangat keberatan dan mengecam keras terhadap apa yang telah dilakukan oleh beberapa perusahaan minyak dan gas (Migas) yang telah melakukan kegiatan eksploitasi maupun eksplorasi di Pulau Ra’as,” jelasnya, Senin (8/2/2016).

Lebih lanjut Fauzi menjelaskan, selama ini ada beberapa perusahaan yang telah melakukan kegiatan eksploitasi bahkan sampai eksplorasi, namun tidak pernah mengesampingkan persoalan yang terkait dengan lingkungan, salah satunya ada beberapa kelompok nelayan di pulau tersebut mengeluh, sebab tangkapan ikan mereka menurun drastis setelah adanya kegian eksplorasi. Padahal sebelumnya dengan durasi waktu 14 hari nelayan bisa mendapatkan hasil tangkapan 1 tons, tetapi kini mereka hanya mendapat sekitar 500 Kg.

Hal itu sudah jelas, dari dampak adanya perusahan minyak dan gas (Migas) sangat merugikan terhadap masyarakat yang mayoritas bermata pencaharian sebagai nelayan. Sedangkan kompensasi dari perusahaan tidak jelas, namun masyarakat tidak bisa berbuat banyak, sehingga perusahaan yang semestinya mengerti terhadap kondisi masyarakat setempat, agar keberadaan perusahaan tersebut memberikan kontribusi yang jelas kepada masyarakat sebagai daerah dampak kegiatan perusahaan pengeboran minyak dan gas (Migas). 

Fauzi Muhfa menegaskan, penolakan sudah tidak mungkin, semestinya perusahaan minyak dan gas (Migas) memperhatikan persoalan ini, jadi orang diluar sana melihat Kepulauan Raas memiliki sebuah daerah yang sangat kaya, tapi kekayaan itu tidak berdampak pada kekayaan penduduknya, justru masih sengsara karena ada kebijakan pemerintah yang tidak berpihak dan pro kepada rakyat.
 

Paling tragis ketika masyarakat merasakan bagaimana dampak dari perubahan kebijakan pemerintah yang sebelumnya mengeluarkan kebijakan subsidi bahan bakar minyak (BBM), sehingga masyarakat menjadi ibarat tikus yang mati di lumbung padi, wilayah yang sangat kaya dan begitu melimpahnya sumber minyak dan gas (Migas) yang selalu dikeruk, sementara masyarakat hanya menerima kesengsaraan akibat kelangkaan bahan bakar minyak (BBM).

Pihaknya berharap Pemerintah Pusat, Provinsi dan Daerah untuk memperhatikan nasib masyarakat yang menjadi dampak dari perusahaan minyak dan gas (Migas), sehingga ada kebijakan yang dapat menguntungkan terhadap masyarakat, agar perekonomiannya semakin membaik. 

Hingga saat ini ada dua perusahaan sudah melakukan kegiatan di Pulau Raas, Kabupaten Sumenep, diantaranya, Kangean Energi Indonesia (KEI) yang berada di wilayah timur dan Husky Cnooc Madura Limited (HCML) yang berada di wilayah barat perairan Pulau Raas.
Fahrul
Jurnalis Cendana News
Wilayah Pulau Madura
 
Lihat juga...