SENIN, 1 FEBRUARI 2016
Jurnalis: Koko Triarko / Editor: Sari Puspita Ayu / Sumber foto: Koko Triarko
YOGYAKARTA—Imlek identik dengan liong atau naga dan barongsai atau macan. Dan, menjelang imlek Februari ini pengrajin dan pemain liong barongsai sudah kebanjiran pesanan. Salah satunya, Pak Pong (68), warga Kampung Pajeksan, Sosromenduran, Gedongtengan, Yogyakarta.
![]() |
| Pak Pong |
Ditemui di kediamannya, Senin (1/2/2016), Pak Pong mengatakan, menjelang Imlek tahun ini ia sudah menyiapkan 100 buah barongsai ukuran kecil dan sedang. Barongsai sebanyak itu dibuatnya selama satu bulan ini. Pak Pong tak hanya membuat. Namun juga merupakan pemain barongsai yang sudah berpengalaman sejak tahun 1999. “Saat ini sudah ada delapan pesanan untuk main barongsai di berbagai tempat di Yogyakarta”, ujarnya.
Pak Pong menekuni kerajinan barongsai karena suka dengan keunikan dan keindahan bentuknya. Setelah belajar cara membuat barongsai selama 1,5 bulan, ia pun sudah bisa mandiri. Meski tidak dalam momentum Imlek, setiap hari barongsai buatannya juga tetap laku. Biasanya, barongsai laku keras dijual ketika ada perayaan pasar malam.
Pak Pong yang bernama asli Slamet, mengaku tidak ada kendala dalam menjalankan usahanya. Namun karena barongsai dan liong itu dibuat dari kertas daur ulang dan lem, maka panas matahari menjadi faktor yang paling menentukan dari lancar tidaknya proses pembuatan barongsai. Adapun lama pembuatan tergantung ukurannya. Untuk ukuran kecil dan sedang, dalam sehari Pak Pong bisa membuat 15 kepala barongsai. Sedangkan harga jualnya untuk barongsai kecil dan sedang rata-rata Rp. 30-40.000 perbuahnya.
“Barongsai kecil dan sedang ini untuk mainan saja. Kalau untuk main, beda lagi”. katanya.
![]() |
| Cetakan Barongsai |
Menurut Pak Pong, barongsai yang untuk main biasanya berdiameter 150 centimeter. Kerangkanya terbuat dari rotan, dan bulu mata dari wool atau bulu domba. Harganya bisa mencapai Rp. 3 Juta. Harga semahal itu, menurut Pak Pong, karena bahan kertas yang digunakan cukup banyak dan sebagian bahan yang digunakan ada yang harus didatangkan dari luar daerah.
“Untuk bahan bulu mata atau alisnya, kita harus mendatangkan bahannya dari Semarang atau dari Bandung”, katanya.
![]() |
| Barongsai karya Pak Pong siap dimainkan |
Sementara itu, lanjut Pak Pong, untuk harga liong atau naga lebih mahal lagi. Liong dengan panjang 20 meter harganya Rp. 7 Juta. Sedangkan lama pembuatannya bisa 2-3 bulan. Dengan berbagai kerumitannya dalam proses membuat liong dan barongsai, Pak Pong hanya merasa kesulitan ketika panas matahari tidak maksimal.
“Cara membuat barongsai dan liong itu kertas ditempelkan pada cetakan menggunakan lem. Ditumpuk-tumpuk sampai ketebalan tertentu. Karena menggunakan lem itu, pengeringan harus cepat dan maksimal”, pungkasnya.

