RABU, 17 FEBRUARI 2016
Jurnalis : Henk Widi / Editor : ME. Bijo Dirajo/ Foto: Henk Widi
LAMPUNG — Besarnya pengabdian guru Madrasah Ibtidaiyah(MI) Nurul Hidayah setingkat sekolah dasar di Lampung Selatan ini patut diacungi jempol. Laki-laki yang mengabdikan diri sebagai guru honorer ini mulai mengajar di Desa Padan Kecamatan Penengahan Lampung Selatan yang berada di kaki Gunung Rajabasa.
![]() |
| Omar, Guru MI Nurul Hidayah |
Oman, yang lahir di Pandeglang Jawa Barat pada tahun 1968 tersebut mulai mengajar di MI Nurul Hidayah pada tahun 2000 di sekolah MI yang mulai berdiri sejak tahun 1973. Pada awalnya sekolah tersebut berupa bangunan semi permanen berupa papan dan geribik.
“Saya mengajar di madrasah ini karena panggilan hati, meski kalau dihitung hitung tidak cukup untuk biaya hidup sehari hari yang cukup tinggi,”ujar Oman kepada Cendana News, Rabu (17/2/2016)
Mengabdikan diri sebagai guru honorer menurut Oman dilakoninya akibat sang istri yang mulai sakit-sakitan sehingga ia bisa menjadi kepala keluarga yang harus menghidupi kedua anaknya. Oman mengaku saat ini setiap hari mulai mengajar di MI Nurul Hidayah sejak pukul 07:30 WIB dan 12:30 WIB.
Selama menjadi guru honorer Oman mengaku dibayar hanya 100ribu dan diberikan pertiga bulan sekali yang digunakannya untuk menghidupi sang isteri dan kedua anaknya. Kebutuhan hidup yang semakin tinggi membuat Oman berusaha mencari tambahan lain dengan menjadi penjual donat seusai mengajar.
Keputusannya untuk menjadi penjual donat dilakoni oleh guru honorer sejak anak pertamanya mulai masuk jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) dan anak keduanya memasuki jenjang Sekolah Dasar (SD) sehingga kebutuhan untuk keluarga dirasa semakin banyak.
Proses pembuatan donat dilakukan oleh Oman dibantu sang istri yang hanya bisa bekerja di rumah akibat sakit pada tulang belakang. Pembuatan donat dengan bahan tepung dan bahan lain sebanyak 5 kilogram diolah menjadi kue donat yang dibungkus dengan plastik mika.
“Setiap bungkus saya jual dengan harga 10 ribu dengan isi sebanyak 12 kue donat dan saya jajakan dari rumah ke rumah menggunakan sepeda motor,”ungkap Oman.
Penjualan kue donat yang dilakukannya selama sepekan tiga kali diakui Oman tidak selalu laku. Jika sedang mujur, sekali berkeliling menjajakan beberapa bungkus donat ia bisa memperoleh uang sebesar 280ribu yang digunakan untuk modal usaha pembuatan donat hari berikutnya.
“Kalau dihitung hitung saya menghabiskan modal sebesar 138ribu sekali membuat donat yang digunakan untuk pembelian bahan baku jadi keuntungannya cukup kecil tapi disyukuri saja,”ungkap Oman.
Sebagai tenaga honorer yang mengajar di Madrasah Ibtidaiyah ia mengaku tidak pernah mengeluh meskipun setiap tiga bulan sekali ia baru bisa memperoleh uang sebesar Rp.300ribu yang digunakan untuk berbagai keperluan termasuk untuk biaya berobat sang istri.
Oman mengaku sebagai guru honorer hal serupa juga dialami oleh rekan mengajarnya yang bernama Busro yang mengajar di lokasi sekolah yang sama. Minimnya gaji setiap bulan yang hanya dibayar sebesar Rp100ribu membuat Busro menggunakan waktu yang dimilikinya seusai mengajar sebagai tukang ojek atau sejak subuh untuk mengantar pedagang ke pasar.
“Selagi saya masih bisa bekerja saya menjadi tukang ojek setiap sore di pasar atau pertigaan dan lumayan bisa menjadi tambahan penghasilan saya sehari hari,”ujar Busro.

Kedua guru honorer tersebut mengaku diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) merupakan sebuah harapan yang tak bisa terwujud mengingat berbagai persyaratan yang sudah tak bisa dipenuhinya. Ia bahkan hanya bisa terus mengabdikan diri di sekolah yang kini menjadi tempat menuntut ilmu sebanyak 89 siswa dari kelas 1 hingga kelas 6 Madrasah Ibtidaiyah Nurul Hidayah yang berada di kaki Gunung Rajabasa.