JUMAT 5 FEBRUARI 2016
Jurnalis : Samad V. Sallatalohy / Editor: Gani Khair / Sumber Foto : Samad V. Sallatalohy
AMBON—Kampus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) menuju Universitas Islam Negeri (UIN) Ambon. Berbagai persiapan tengah dilakukan pihak Civitas Akademika kampus berjuluk hijau tersebut.

Rektor DR. Hasbollah Toisuta M.Ag saat ditemui Cendana News di kampus IAIN bilangan Tarmidzi Tahir Desa Batu Merah Kecamatan Sirimau Kota Ambon Jumat (5/2/2016) menyebutkan, ia bersama pihaknya sedang melakukan sejumlah persiapan guna peralihan status kampus yang dipimpinnya tersebut.
Bahkan sudah melakukan studi kelayakan pra peralihan IAIN ke UIN di Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) di Jakarta. “Pada Agustus 2015 kemarin, kami sudah mempresentasikan proposal alih status IAIN menjadi UIN Ambon di Kemenag RI di Jakarta,” ujarnya.
Dijelaskan, sesuai hasil presentasi tim penilai terdiri dari beberapa orang guru besar dari Kemenag RI itu menguji proposal usulan IAIN ke UIN Ambon, tim penilai memberikan catatan-catatan sebagai masukan untuk diperbaiki atau dilengkapi oleh pihaknya.
Apa yang menjadi dasar peralihan status IAIN ke UIN Ambon, menurut DR Hasbollah, sesuai presentase tim penilai memberikan catatan-catatan mendasar antara lain, apa yang menjadi keunggulan IAIN atau UIN Ambon, agar dipertajam dalam proposal usulan tim IAIN Ambon.
“Distinguishing atau karakter yang menjadi keunggulan IAIN atau UIN Ambon dengan Perguruan Tinggi lain di Maluku itu apa? Ciri khas inilah yang menjadi catatan mendasar atau yang disarankan oleh tim penilai Kemenag RI, untuk kami mempertajamkannya dalam proposal,” ucapnya.
“Misalnya, kita ingin IAIN atau UIN Ambon itu sebagai pusat kajian multikulutral atau lain-lain. Demikianlah yang disarankan oleh tim penilai Kemenag RI,” jelasnya.
Alumnus UGM Yogyakarta ini juga mengakui, sesuai koreksi tim penilai Kemenag juga memberi masukan berkaitan dengan paradigma keilmuan agar proposal usulan alih status IAIN ke UIN itu dipertajam atau diperbaiki lagi.
“Distinguishing dan paradigma keilmuan adalah kekhasan, supaya bisa membedakan IAIN atau UIN Ambon dengan perguruan tinggi lainnya di Maluku. Kira-kira fokusnya apa, itulah yang menjadi catatan tim penilai,” paparnya.
Disamping itu, tim penilai juga memberi catatan dalam proposal usulan peralihan IAIN ke UIN Ambon dalam aspek kelengkapan infrastruktur dan supra struktur.
“Kelengkapan-kelengkapan infrastruktur maupun suprastruktur seperti sumber daya manusia dan sebagainya memang juga disarankan oleh tim penilai kepada kami guna dipertajam pula dalam proposal kami,” ungkapnya.
Target IAIN resmi menjadi UIN kapan, ditanya demikian Toisuta sendiri belum bisa memastikan hal itu. Alasalanya, berbagai upaya atau usaha sudah dilakukan ia bersama pihaknya.
“Kepastian atau keputusan IAIN menjad UIN Ambon itu kewenangan Pemerintah Pusat. Tentunya, sejumlah catatan dari tim penilai pusat itu sedang kami perbaiki. Selanjutnya perbaikan proposal selesai dilakukan tim maka kita akan bawa lagi ke Jakarta. Harapan saya tim bekerja cepat guna melengkapi masukan dari tim penilai sehingga secepatnya kita bawa ke Kemenag RI lagi,” tuturnya.
DR Hasbollah berharap, Pempus bisa merespon ide peralihan status IAIN ke UIN Ambon. Bukan hanya IAIN Ambon di bawah naungan Kemenag RI, tapi Sekolah Tinggi Agama Kristen Protestan Negeri (STAKPN), juga harus bertranspormasi menjadi Institut Agama Kristen Protestan Negeri (IAKPN) Ambon.
“Kami berharap Pempus bisa merespon positif ide kami. IAIN menjadi UIN Ambon dan STAKPN beralih status ke IAKPN Ambon. Jika, dilihat dari aspek per wilayahan, ternyata di Maluku masih terjadi kesenjangan pendidikan. Misalnya, di Sumatera ada ada enam UIN, Jawa, Indonesia Bagian Tengah juga ada UIN-nya, ya Indonesia Timur khususnya Ambon – Maluku harus ada UIN Ambon dan IAKPN Ambon juga,” urai Toisuta penuh berharap.
Ditambahkannya, jika Pempus dapat merealisasikan UIN Ambon dan IAKPN Ambon, maka sudah pasti masyarakat Maluku hal itu sangat mempermudah masyarakat dalam mengakses pendidikan yang lebih terjaungkau.
Peralihan status dari IAIN menjadi UIN bukan keinginan Rektor secara pribadi, tapi menjadi kebutuhan seluruh masyarakat Maluku.
“Karena dengan begitu, masyarakat bisa membeli akses pendidikan dengan murah. Tidak perlu lagi berangkat jauh-jauh keluar Maluku untuk mengakses pendidikan. Kiranya Pempus dapat merespon positif ide kami ini,” pungkasnya.