Warga Balikpapan Belum Banyak yang Tertarik Menggeluti Bisnis Hidroponik

SENIN, 4 JANUARI 2016
Jurnalis: Ferry Cahyanti / Editor: Sari Puspita Ayu / Sumber foto: Ferry Cahyanti

BALIKPAPAN—Kendala luas tanah bukan jadi persoalan bagi warga Balikpapan yang ingin bercocok tanam. Bercocok tanah dengan pola hidroponik kini mulai dikenal masyarakat dan dianggap sebagai solusi bagi  sebagian masyarakat kota yang ingin memanfaatkan pekarangan rumah yang minim untuk bercocok tanam.


Adalah Sri Wahyuni, seorang ibu rumah tangga warga kawasan Gunung Bahagia RT.37 yang memanfaatkan pekarangannya untuk bercocok tanam dengan pola hidroponik. Menurut Sri, menjadi petani hidroponik bukan hal yang mudah namun juga tidak sesulit yang dibayangkan. Cukup kemampuan ilmu dan modal ya lumayan serta kesabaran atau telaten. Ia sendiri sudah menekuninya sejak 2 tahun yang lalu. 
“Awal-awal kita gagal karena medianya bekas botol minuman, ditempatkan tidak kena matahari. Ya lalu ikut pelatihan sekali. Medianya kita pakai paralon. Ukuran 4 meter kali 1,5 meter. Modal awal pembuatan medianya lumayan mahal Rp9 juta. Tapi Alhamdulillah dalam sebulan kita bisa panen dua kali,” ungkapnya.
Sri menjelaskan pola hidroponik yang ia tekuni adalah menggunakan sistem Deep Flow Technique (DFT) sehingga pipa empat meter sebagai wadah aliran air ini jika kondisi mati lampu maka masih ada genangan air setinggi 2 cm. Jika mati 12 jam maka tanaman masih bisa bertahan.
Perangkat lain yang dibutuhkan media tanam dari materi batu mineral khusus hidroponik sebagai tempat menyemai bibit. Sedangkan Netpot digunakan sebagai wadah batu mineral dan bibit daun selada (Sri menjelaskan sesuai jenis tanaman yang ia budidayakan).

Di halaman rumah yang berukuran kurang lebih 3×5 meter, ada berbagai macam tanaman sayuran yang tumbuh sehat, diantaranya daun selada, seledri, cabai, sayur cein hingga buah strowberi… Sri menjelaskan bahwa sebagian dari tanaman tersebut sudah ada yang memesan. 
“Diantara tanaman yang sudah jadi itu, sudah ada pemesannya,” imbuhnya.
Di kesempatan berbeda, Normansyah selaku Ketua Asosiasi II Hidroponik Balikpapan menjelaskan bahwa usaha tanaman hidroponik belum banyak warga yang mau menekuni dan mengembangkan. Padahal bisnis tersebut menurut Normansyah memiliki prospek yang bagus apalagi saat masyarakat modern memiliki kecenderungan untuk membeli-mengkonsumsi sayur sehat yang tidak tercemar pestisida.
Nirmansyah menyampaikan data bahwa untuk sayuran selada saja, di Balikpapan kebutuhan per pekan sekitar 60 kg namun baru dapat terpenuhi sekitar 40 kg. Dengan demikian kebutuhan sayuran sangat kurang.
Hasil pertanian hidrponik sudah memiliki pasar sendiri. Beberapa perajin (pelaku bisnis cocok tanam pola hidroponik) menyuplai ke pasar modern dan sebagian lagi langsung menjual ke pedagang makanan jadi.
“ Biasaya sebelum panen itu, kayak selada itu sudah dipesan oleh pembeli 3 minggu sekali, sesuai dengan masa panen masing-masing sayur,” ungkapnya.
Ia menambahkan jika pola hidroponik ini berjalan bagus, maka normalnya peranjin dapat melakukan panen  pada hari ke 30 sejak penyemaianya. Sedangkan pola konvensional, normalnya panen itu sekitra 35-50 hari.
Dalam penanaman sayuran pola Hidroponik  ini lanjut Normansyah dibutuhkan udara, nutrisi, air, dan matahari. “Kurang matahari  atau salah menempatkan lokasi penanaman, hasil tumbuhnya nggak bagus,” tutupnya.
Lihat juga...