SENIN, 18 JANUARI 2016
Jurnalis: Agus Nurchaliq / Editor: Gani Khair / Sumber foto: Agus Nurchaliq
BERITA FOTO—Kami hidup di dunia yang tak sempurna …. Kamilah anak-anak sampah, seperti kata Tuan dan Puan pemerhati pendidikan, tak punya masa depan! Maka kami meledakkan amarah dan kesedihan kami di jalanan, jadi tawuran atau perkelahian…., Kutipan kata-kata dari sebuah novel inilah yang menjadi inspirasi Tyas Agusta mahasisiwi jurusan Seni rupa Fakultas Ilmu dan Budaya Universitas Brawijaya (FIB UB) dalam membuat lukisan yang ia pamerkan di lantai satu FIB UB, Senin (18/1/2016).

Tyas menjelaskan bahwa sebenarnya ketujuh karya lukisan yang ia pamerkan ini terinspirasi dari sebuah novel karya Fahd Djibran Bondan Prakoso & Fade2Black yang berjudul “Tak Sempurna”. Menurutnya, cerita dalam novel ini sendiri terinspirasi dari fakta yang sering terjadi dalam kehidupan remaja khususnya di dalam sekolah, seperti kasus tawuran yang masih sering terjadi di kalangan anak sekolah.
Melalui karya lukisan ini Tyas ingin mengkritisi sistem pendidikan yang ada di dalam sekolah. Kenapa sekolah yang seharusnya bisa membuat mereka menjadi lebih baik, tapi kenapa justru “budaya” tawuran ini masih selalu ada, itu yang menjadi ide Tyas untuk dituangkan dalam karya seni.
“Novel Tak Sempurna sendiri menjadi sebuah jembatan dari fakta-fakta, yang kemudian di tuangkan dalam karya lukisan,” ujar mahasiswi yang juga suka membaca ini.
Tyas sendiri memilih mengangkat sebuah karya sastra ke dalam lukisannya, karena menurutnya untuk memahami sebuah karya sastra mumbutuhkan kedalaman penghayatan untuk dapat mencerna apa yang ingin disampaikan oleh sang penulis, dan kedalaman penghayatan itu yang ingin ia terapkan dalam lukisannya.
Ia menambahkan, butuh waktu kurang lebih dua bulan untuk mepersiapkan pamerannya.






