RABU, 27 JANUARI 2016
Jurnalis: Charolin Pebrianti / Editor: Gani Khair / Sumber foto: Charolin Pebrianti
SURABAYA—Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) yang melibatkan anggotanya untuk eksodus dari daerah asalnya menuju Kalimantan yang sekarang tengah dipulangkan kembali ke daerah masing-masing oleh pemerintah daerah, kini harus dihadapkan pada suatu persoalan baru terkait kondisi psikologis anak-anak dari eks anggota Gafatar.

“Kondisi psikologis anak-anak eks anggota Gafatar memang butuh perhatian,” terang Hetti Sari Ramadhani, S.Psi., M.Si, dosen psikologi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) saat diwawancara oleh Cendana News, Rabu (27/1/2016).
Hetty menambahkan bagi anak usia 5 tahun kebawah bisa berdampak traumatik dan kecemasan jika melihat kerusuhan secara langsung. Dan bagi anak usia 5 tahun keatas tahapan perkembangannya juga akan banyak terganggu dengan kondisi yang terbatas, sosialnya, emosinya, kognitifnya bahkan kebutuhan psikologisnya.
“Dan tentunya peran keluarga dekat sangat penting. Secara teori brofenbreneur pengaruh mikro menjadi yang paling dekat dengan diri anak,” ujarnya. Terutama peran orang tua dalam membangun sistem keluarga. Kemudian peran keluarga besar, masyarakat yang juga penuh toleran dan sportif, dan adanya dukungan ahli serta pemerintah.
“Pendampingan tentu harus dilakukan oleh pemerintah, pertama ke orang tua eks anggota gafatar,” imbuhnya.
Kedua, sang anak juga diberi kegiatan seperti bermain dan belajar saja sesuai tumbuh kembang anak. Utamanya, di depan anak orangtua tetap harus jadi orangtua yang luar biasa, membesarkan dengan nilai-nilai kebaikan, memberi motivasi besar pada anak.
“Mungkin kesan awal masyarakat memang takut dengan eks anggota Gafatar, tapi jika hubungan kemasyarakat dibangun kembali dengan baik lambat laun pasti kembali normal. Masih banyak masyarakat yang baik, dan sekolah yang baik. Kita harus optimis,” pungkasnya.