RABU, 20 JANUARI 2016
Jurnalis: Lidya Salmah / Editor: Sari Puspita Ayu / Sumber foto: Lidya Salmah
JAYAPURA—Perselisihan yang terjadi di tataran masyarakat Papua belakangan ini baik antar kelompok, individu, golongan hingga yang mengarah ke Suku Ras dan Agama (SARA) diduga tak lepas dari bergesernya toleransi masyarakat.
![]() |
| Orgenes Wanimbo |
Wakil Ketua Komisi I DPR Papua, Orgenes Wanimbo mengatakan, bergesernya toleransi masyarakat karena saat ini makin banyak orang dari luar Papua yang masuk ke Papua.
Mereka datang dari berbagai wilayah lain di Indonesia dengan karakter berbeda-beda, serta pola pikir masyarakat juga mulai bergeser.
“Pola pikir masyarakat tak lagi memikirkan bagaimana membangun toleransi dan tenggang rasa antar sesama warga. Karena itu masyarakat Papua kini gampang terprovokasi. Dan ini tak lepas dari semakin banyaknya orang dari luar Papua masuk ke Papua,” ujar Orgenes di Jayapura, Papua, Rabu (20/1/2019).
Kata Orgenes, ini seharusnya menjadi tanggungjawab pemerintah mulai dari RT/RW, kelurahan, distrik, kabupaten/kota hingga provinsi untuk membina masyarakat.
Selain itu, penyebab perselisihan juga diduga karena adanya pihak-pihak tertentu yang selalu memanfaatkan kondisi di masyarakat.
“Mereka memprovokasi masyarakat. Padahal Papua selalu disebut tanah damai. Tapi kini masyarakatnya lebih cenderung menyelesaikan masalah dengan caranya sendiri,” sebutnya.
Masih dikatakan Orgenes, orang asli Papua sendiri sejak dulu memiliki sikap toleransi yang kuat. Namun belakang ini, pola pikir sebagai orang asli Papua juga sudah mulai bergeser.
“Ini akibat perkembangan di masyarakat yang membuat pola pikir mereka mulai berubah. Tentu kondisi itu juga berdampak pada psikologi orang asli Papua bagaimana tetap bertahan dan menjadi tuan di tanahnya sendiri,”tandasnya.