SABTU, 23 JANUARI 2016
Jurnalis: Charolin Pebrianti / Editor: Sari Puspita Ayu / Sumber foto: Charolin Pebrianti
SURABAYA—Kepedulian masyarakat terhadap penyandang disabilitas terutama penyandang tunanetra ternyata hingga kini masih dirasa kurang. Sekretaris Jenderal Pertuni (Persatuan Tunanetra Indonesia), Furqon Hidayat menambahkan selama ini kurang baiknya pandangan masyarakat normal kepada penyandang tunanetra seharusnya segera dirubah.
![]() |
| Anggota Pertuni sedang menikmati kebersamaan di Taman Bungkul Surabaya |
“Penilaian individu masyarakat terhadap tunanetra masih kurang bagus, sehingga menghambat pengembangan diri penyandang tunanetra,” ujarnya kepada Cendana News, Sabtu (23/1/2016).
Menurut Furqon, faktor budaya yang menyebabkan pengembangan diri dari penyandang tunanetra masih kurang. Rasa canggung masih dirasakan oleh penyandang tunanetra.
“Ketika saya ingin beribadah, sholat Jumat misalnya ada rasa canggung tersendiri,” terangnya.
Rasa canggung itu berasal dari masyarakat karena menganggap tunanetra harusnya di rumah saja jangan sampai keluar rumah.
“Padahal penyandang tunanetra juga harus sekolah, beribadah, ke pasar dan lain sebagainya,” imbuhnya.
Furqon berharap ada penyamaan pandangan antara masyarakat normal dan penyandang tunanetra. Seharusnya penyandang disabilitas diberi tempat untuk mengaktualisasikan diri.
“Harus ada kesadaran diri dari masyarakat, agar tak memandang sebelah mata terhadap penyandang tunanetra,” tandasnya.