![]() |
| Pembicara dalam acara bedah buku Ayat-ayat yang disembelih Anab Afifi, Thowaf Zuharon, Letkol Eko Ismadi, Stevi Andriani |
Tren
- IKN dan Mandala Nusantara Festival
- Timor dalam Nagarakretagama
- Kesetiaan Ideologi & Tujuan Nasional
- Prioritas Pemberantasan Korupsi
- Kartini: Islam, Feodalisme Jawa dan Kolonialisme Eropa
- Jurusan PT Era AI
- Revitalisasi Gerakan Non Blok
- Bebas Aktif, Manfaatnya Apa?
- Politik “Multi-Vektor” Presiden Prabowo
- Dubes Iran Blunder?
SABTU, 30 JANUARI 2016
Jurnalis: Aidt / Editor: Gani Khair / Sumber foto: Adit
BANDUNG—Sejarah yang berdasarkan fakta dari para saksi mengenai Partai Komunis Indonesia (PKI) sejak tahun 1945 hingga 1968, kini dituangkan ke dalam sebuah buku yang berjudul “Ayat-ayat yang disembelih” karya Anab Afifi dan Thowaf Zuharon. Buku yang disajikan dengan gaya bercerita ini mengungkap gambaran detil pada masa kejadian yang tidak hanya bersumber dari referensi teks.
Anab Afifi mengaku telah melakukan wawancara 35 saksi hidup yang terdiri dari korban, kerabat, dan keluarga korban keganasan PKI di Jakarta, Solo, Ngawi, Madiun, Magetan, Ponorogo, Kediri, Blitar, dan Surabaya. Menurutnya, buku tersebut adalah untuk memperjelas sejarah yang belum jelas.
“Jadi buku ini adalah sisi dari kisah faktual, kalau sejarah kan secara luasnya. Saya memwancarai 35 orang saksi, ini cerita dari mereka dan memperjelas apa yang belum jelas,” kata Anab usai bedah buku di Gedung Landmark, Kota Bandung, Sabtu (30/1/2016).?
Sebagai penulis, Anab pun menuangkan pesan-pesan untuk para pembaca mengenai komunisme. Bahkan, ia mengaku salah satu anggota keluarganya merupakan korban kekejaman dari PKI.
“Pesannya agar pembaca memiliki kesadaran soal komunisme, bagi yang tidak tahu komunis seperti apa. Yang berkembang itu kan PKI itu buatan milter dan sebagainya. Ayahnya kakek saya menjadi korban pada zaman PKI,” tegasnya.
Lihat juga...