Budaya “Nriman” Disampaikan Tiga Dosen STMIK ASIA dalam Seni Rupa dan Fotografi

RABU, 27 JANUARI 2016
Jurnalis: Agus Nurchaliq / Editor: Sari Puspita Ayu / Sumber foto: Agus Nurchaliq

MALANG—Berangkat dari sebuah kegelisahan terhadap budaya “nriman” atau dalam bahasa Indonesia disebut pasrah yang sering dilihat dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, tiga orang dosen Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STMIK ASIA) Handry Rochmad Dwi Happy, Faldi Hendrawan dan Elfa Olivia Verdiana menggelar pameran karya seni rupa dan fotografi dengan tema “nriman” di ruang pamer Dewan Kesenian Malang (DKM).
Handry menjelaskan bahwa budaya nriman dalam kehidupan masyarakat sebenarnya ada dampak baik dan buruknya, tapi kebanyakan masyarakat kita dengan adat ketimurannya itu justru tidak berani untuk bersuara dan cenderung selalu menerima keadaan yang mereka alami, jelasnya kepada Cendana News, Rabu (27/1/2016).
Ia mencontohkan, ditempat yang seharusnya tidak perlu ada tukang parkir, tapi ternyata ada tukang parkir, dan karena masyarakat enggan untuk bersuara atau berdebat, mereka biasanya pasrah dan langsung memberikan uang kepada tukang parkir.
Oleh karena itu, melalui pameran yang dimulai sejak hari Senin (25/1/2016) hingga Kamis (28/1/2016) mereka bertiga ingin menyampaikan kepada masyarakat untuk belajar tidak hanya menerima, belajar untuk berani bersuara dan belajar untuk berani berbeda, ujar dosen kelahiran Malang tahun 1987 ini.
Ia menambahkan, dalam pameran ini terdapat dua karya seni yang mereka pamerkan, karya seni rupa dan karya fotografi. 
“Elfa memamerkan tujuh karya lukis menggunakan media air, Faldi enam karya lukis berupa sketsa atau drawing dan saya sendiri menampilkan sembilan karya seni fotografi,” jelasnya.
Handry mengaku dalam membuat karyanya tersebut ia mendalami teknik fotografi makro (memotret benda-benda kecil menjadi besar) dengan menggunakan media cair.

“Saya menggunakan media cair media cair karena sikap dan sifat nrima itu seperti seperti media cair, dia mengikuti kemanapun ia dibawa,”ucapnya.


Dalam karya fotografinya yang berjudul “Grow Up”. Handry ingin menyampaikan bahwa kita sebagai manusia terkadang mau tidak mau harus nrima takdir.
“Kita tidak bisa menolak takdir untuk tumbuh, seperti kepribadian yang selalu tumbuh seiring dengan berjalannya waktu serta tubuh dan pikiran kita yang juga selalu tumbuh, dan semua itu harus di trima tidak bisa du tolak,”ungkapnya.
Tidak berbeda jauh dengan Handry,Elfa yang melukis dengan teknik melukis diatas air juga menggunakan media cair untuk lukisannya.
Dalam tujuh lukisannya, Elfa ingin menyampaikan bahwa manusia mau tidak mau harus bisa menerima diri sendiri, kekurangan orang lain dan juga keadaan.
“Terkadang kita berharap sesuatu itu terjadi sekarang, padahal semua itu butuh waktu dan ada saat-saatnya sendiri,” ucap lulusan S-2 Pengkajian Seni Pertujukan dan Seni Rupa Univesitas Gajah Mada (UGM).
Sedangkan Faldi dengan menggunakan teknik arsiran dengan media sederhana berupa kertas dan juga drawing pen (bolpoin untuk menggambar), ia ingin merepresentasikan dirinya kedalam sebuah karya seni lukisan.
“Lukisan-lukisan ini saya anggap sebuah sikap nrima yang menjadi kebiasaan saya dan tercermin dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Sementara itu, ketiga dosen yang kreatif tersebut, meskipun sama-sama lulusan S1 Universitas Negeri Malang namun mereka mengaku awalnya tidak saling mengenal. Mereka baru berkenalan ketika bertemu di sebuah pameran di Yogyakarta, ketika mereka sama-sama melanjutkan pendidikan di kota tersebut. Dan akhirnya secara tidak disengaja kini mereka justru berkarya di tempat yang sama.

Lihat juga...