Balita dan Lansia di Posko Pengungsian Terserang ISPA dan TBC

SELASA, 19 JANUARI 2016
Jurnalis: Ebed De Rosary / Editor: Sari Puspita Ayu / Sumber foto: Ebed De Rosary

MAUMERE—Sejak dua hari berada di posko pengungsian di kantor camat Mapitara di Desa Hebing, Minggu (17/01/2016) tercatat 15 pengungsi terdiri dari anak-anak balita dan orang tua terserang penyakit inspfeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan TBC. Para pengungsi yang terserang penyakit sudah mendapat perawatan dari tim medis di posko pengungsian dan hingga kemarin,Senin (18/01/2016) belum ada pengungsi yang dirujuk ke puskesmas maupun rumah sakit.

Bayi balita yang tidak mengenakan pakaian akibat mengalami kepanasan
Hal ini disampaikan bidan Thresia Afrida Nona Ice kepada Cendana News yang menemuinya di lokasi posko pengungsian, Senin (18/01/2016). Dikatakan Theresia,dari pertama para pengungsi tiba di posko saat diperiksa tim medis ditemukan sudah ada yang menderita sakit baik ISPA maupun Diare. Pengungsi yang terserang ISPA tutur Theresia kemungkinan menghirup gas dari semburan Gunung Egon.
“Memang tidak banyak yang terserang karena jaraknya masih jauh namun kemungkinan mereka melintasi jalur jalan tempat gas menyebar di sekitar kali pertengahan Dusun Baokrenget dan Lidit,”ujar Theresia.
Theresia Afrida Nona Ice tenaga medis di posko pengungsian kantor camat Mapitara
Hari pertama,Minggu (18/01/2016) terdata 5 lansia yang menderita TBC dan ISPA dan sisanya 5orang merupakan balita.Sementara di hari kedua, Senin (19/01/2016) terdata 5 pasien terserang ISPA. Sementara pasien yang menderita TBC terang Theresia kemungkinan besar karena sudah menderita lama tapi belum memeriksakan diri ke puskesmas.Tercatat 5 pasien TBC merupakan orang dewasa.
Terkait persediaan obat-obatan kata Theresia,stoknya masih cukup karena sejak Senin (19/01/2016) Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka sudah mengirim tambahan obat-obatan ke setiap posko kesehatan. Untuk penanganan kesehatan beber Theresia. Puskesmas Mapitara mendirikan tiga posko dimana posko induk berada di Puskesmas Mapitara sementara dua lainnya berada masing-masing di posko pengungsian kantor camat Mapitara dan pasar Natakoli. Setiap posko ditempatkan 10 orang tenaga medis sementara satu orang dokter umum terang Theresia keliling dari satu posko ke posko lainnya setiap hari.
Para tenaga medis yang bertugas di posko pengungsian kantor camat Mapitara
“Sampai saat ini belum ada pengungsi yang menderita sakit berat dan perlu dirujuk ke puskesmas maupun rumah sakit untuk penanganan selanjutnya. Tapi bila ada pasien yang menderita sakit berat kami siapakan mobil ambulance untuk mengangkutnya ke rumah sakit di Maumere,”tutur Theresia.
Sementara untuk posko pengungsian Pasar Natakoli terdapat 15 pasien yang menderita ISPA.usai diberi obat, para pasien tersebut pun langsung berbaur bersama para pengungsi lainnya. Meski demikian,belum ada tanda-tanda terjadinya peningkatan drastis pasien. Pasien yang mengalami sakit langsung mendapatkan perawatan di posko.
Disaksikan Cendana News,banyak balita yang tidur di tenda pengungsian beralaskan terpal. Balita yang mengalami kepanasan banyak yang tidur tanpa memakai baju dan berada di tempat terbuka berbaur bersama orang dewasa sehingga gampang tertular penyakit. Tidak ada tenda khusus bagi pengungsi yang terserang penyakit.
Lihat juga...