985 Hektar Lahan Jagung di Kabupaten Sikka Terancam Gagal Panen

SENIN, 11 JANUARI 2016
Jurnalis: Ebed De Rosary / Editor: Gani Khair / Sumber foto: Ebed De Rosary

MAUMERE—Sebanyak 985 hektar lahan jagung yang berada di dua kecamatan di Kabupaten Sikka terancam gagal panen akibat kekeringan berkepanjangan. Jagung yang sudah berumur seminggu hingga satu bulan terancam puso atau layu permanen. Dua kecamatan yang merupakan sentra produksi jagung di kabupaten Sikka ini memiliki areal tanaman jagung seluas 2.686 hektar.

Areal sawah tadah hujan di Desa Kolisia, Kecamatan Magapenda yang belum dibersihkan
Demikian ditegaskan Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Sikka, Ir.Hendrikus Blasius Seli kepada Cendana News yang menemuinya, Senin (11/01/2016). Dikatakan, Kecamatan Kangae merupakan daerah yang memiliki luas tanam paling tinggi sebesar 1.693 hektar.
Dari jumlah tersebut terang Hengky,383 hektar masuk kategori ringan sedangkan 90 hektar termasuk kategori sedang. Selain itu terdapat 837 hektar masuk kategori berat dan sisanya 65 hektar mengalami puso.
Sedangkan untuk Kecamatan Kewapante dengan luas tanaman jagung sebanyak 993 hektar, terdapat 289,75 hektar kerusakannya masuk ketegori sedang.Sisanya sebanyak 703 hektar mengalami puso.
Kepala dinas Pertanian dan Perkebunan kabupaten Sikka, Hendrikus Blasius Seli ( kanan ) bersama Kabid Tanaman Pangan, Kanisius Togo.
“Untuk 19 kecamatan lainnya kami sedang lakukan pendataan. Memang kondisi tanaman jagung mengalami layu sementara dan di beberapa titik mengalami layu permanen atau puso, Jika dalam beberapa hari tidak turun hujan maka bisa jadi tanaman jagung yang masuk kategori sedang semuanya akan puso “ ujar Hengky.
Untuk mengatasi kejadian ini tutur Hengky, pihaknya sudah berkordiansi dengan Dinas Pertanian Provinsi NTT (Nusa Tenggara Timur) dan Kementrian Pertanian untuk menyiapakan cadangan benih jagung. Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Sikka juga telah menyiapkan cadangan benih namun jumlah tersebut tidak akan cukup bila kekeringan tetap terjadi dalam seminggu ke depan.
“Saya sudah instruksikan petugas penyuluh lapangan dan petugas pemantau hama tanaman untuk segera melakukan pendataan sehingga data sebenarnya bisa diketahui dua hari ke depan. Kami tiap hari melakukan pemutakhiran data dan mengirimnya ke pusat “ tambahnya.
Tanamn jagung berumur dua minggu di kelurahan Wailiti kecamatan Alok Barat yang terancam puso atau layu permanen
Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Sikka, Kanisius Togo yang mendampingi Hengky menambahkan, areal tanaman jagung di Kabupaten Sikka sesuai data bulan Desember 2015 seluas 10.532,25 hektar. Areal tanaman jagung yang mengalami kerusakan jelas Kanisius paling banyak terdapat di wilayah dataran rendah sementara untuk wilayah perbukitan dan dataran tinggi, tanaman jagungnya masih belum layu.
“ Banyak petani yang sudah menyaingi rumput saat tanaman jagung berumur satu sampai dua minggu padahal kalau ada rumput jagung masih bisa terhindar dari sengatan matahari secara langsung “ tutur Kanisius. 
Disaksikan Cendan News, hampir semua areal tanaman jagung di wialayah Kecamatan Kangae dan beberapa wilayah kecamatan di bagian timur Kabupaten Sikka sudah ditanami jagung. Tampak areal kebun sudah dibersihkan dari rumput dan pohon-pohon lamtoro dan lainnya yang biasanya tumbuh pun sudah ditebang.
Sementara di wiayah barat, banyak wilayah kebun dan sawah tadah hujan belum ditanami jagung dan padi. Para petani lebih memilih membersihkan areal tanam dan membiarkannya sambil menunggu datangnya hujan secara teratur baru mulai melakukan penanaman.Lahan yang belum ditanami tersebut tersebar di kecamatan Magepanda dan Alok Barat yang sebagian besar merupakan sawah tadah hujan dan dipersiapkan untuk ditanami padi. 
Lihat juga...