
Panglima Komando Strategis Angkatan Darat ( Pangkostrad ), Mayor Jenderal Soeharto, pada waktu itu memutuskan untuk menunda pengangkatan jenazah hingga keesokan harinya. Pada tanggal 4 Oktober 1965, delapan pasukan khusus dari KKO Kompi Intai Para Amfibi ( KIPAM ) yang dipimpin oleh Kapten TNI Winanto sebagai Komandan KIPAM KKO TNI Angkatan Laut didukung peralatan selam mencoba melakukan proses pengangkatan jenazah dari dalam sumur.

Deu Kandou menambahkan, sepengetahuannya faktor utama penyebab kematian Ketujuh Pahlawan Revolusi tersebut antara lain akibat berondongan tembakan senapan yang membabi buta, kemudian pada jenazah banyak ditemukan luka lecet.