Berbagi Waktu dan Tempat, Hiasi Aktifitas Korban Kebakaran Pasar Senen

Pedagang kue sedang melayani pelanggan

JAKARTA — Meski kebakaran sudah meluluhlantakan tempat mereka berjualan, namun tidak tidak menyurutkan para pedagang kue ini untuk mencari nafkah. Dengan memamfaatkan tempat sementara di sebuah bangunan yang disediakan PD Pasar Jaya, pedagang kue kawasan Pasar Senen Blok III tonjolkan sifat saling berbagi dan pengertian.
Hal tersebut dibuktikan oleh pedagang kue basah dan kering. Mereka secara rutin bergantian berjualan ditempat yang sama tanpa ada perselisihan atau hal-hal tidak mengenakkan lainnya antara sesama mereka.
Pedagang Kue kering, seperti bolu sampai roti buaya berdagang mulai pukul delapan pagi sampai pukul enam sore. Kemudian dilanjutkan oleh pedagang kue basah yang lebih dikenal dengan pedagang “kue subuh” mulai pukul enam sore sampai pukul delapan pagi keesokan harinya. Hal ini sudah berlangsung sejak lama dan para langganan mereka masing-masingpun sudah mengetahui waktu dagang rutin tersebut.
Suhada dan anaknya Iwan menjalankan bisnis kue bolu dan roti buaya sudah kurang lebih sepuluh tahun belakangan ini dengan hasil yang cukup memuaskan. Bahkan Iwan, anak dari Suhada yang ahli dalam menghias kue tampak menjadi tulang punggung negosiasi dengan pembeli.
” Seperti kue tart untuk ulang tahun ini, harus ada tulisan kata-kata perihal siapa yang berulang tahun, lalu ulang tahun yang keberapa, dan itu saya berikan gratis kepada pembeli. Dengan harapan mereka akan kembali lagi ke toko kue milik bapak saya ini untuk berbelanja,” papar Iwan sambil menghias kue tart yang sedang ditunggu pembeli.
Sedangkan bagi Suhada ayah Iwan, tempat mereka sekarang ini hanyalah sementara. Setelah kios yang terbakar milik mereka rampung diperbaiki maka mereka akan kembali lagi ke kios tersebut. 
Dan menyikapi pergantian waktu dagang dengan para pedagang “kue subuh” maka Suhada merasa itulah keunikan mereka yang tidak dimiliki oleh para pedagang lainnya di pasar senen.
” Seperti tentara yang bertukar shift jaga di pos penjagaan saja. Masing-masing sudah memahami tugas masing-masing, wilayah tugas, serta waktu tugas. Sehingga proses yang terjadi sehari-hari terjadi dengan sendirinya tanpa harus dikomando lagi,” urai Suhada sambil berpamitan kepada Cendana News untuk membereskan kue-kue dagangannya karena sudah mendekati pukul enam sore.
Menyikapi razia yang menimpa rekan-rekan mereka yang letaknya tidak jauh dari area perdagangan mereka, maka Suhada dan Iwan hanya berharap aparat yang melakukan razia bisa menggunakan sedikit hati nurani. Pemberian solusi dirasakan lebih baik dibanding hanya razia tidak boleh berdagang ditempat tersebut. Sedangkan mengenai tudingan rekan-rekan mereka terhadap awak media, Suhada dan Iwan berpesan agar awak media bisa lebih bijak dan berempati lagi kedepannya.
” Untuk saat ini cooling down dulu, jangan liputan dulu disini, suasana belum kondusif, ini demi keamanan kawan-kawan media juga. Jika keadaan sudah aman, dan rekan-rekan kami sudah mendapatkan solusi tempat berdagang yang baru kedepannya maka datanglah perlahan untuk meliput. Kami sebenarnya senang dengan liputan media, jurnalis adalah kawan kami semua, namun mungkin apa yang terjadi belakangan ini membuat rekan-rekan kami sesama pedagang agak terbawa emosi,” lanjut Suhada.
Harapan kedepannya dari Suhada dan Iwan adalah, Pasar Senen dapat tetap menjadi salah satu pusat perputaran roda ekonomi di kawasan Jakarta Pusat. Dengan PKL, Pedagang asongan, serta pedagang didalam kios sebagai aktor intelektual di balik kencangnya perputaran roda ekonomi tersebut.

Aneka kue kering

Jumat, 02 Oktober 2015
Jurnalis       : Miechell Koagouw
Foto            : Miechell Koagouw
Editor         : ME. Bijo Dirajo

Lihat juga...