
FLORES — Jembatan Wae Tibong di jalur Cumbi-Golocala, Desa Jaong, Kecamatan Satarmese, Kabupaten Manggarai, Flores, NTT, yang belum setahun dibangun sudah rusak lagi, saat ini tengah dilakukan perbaikan kembali oleh pihak kontraktor. Namun, diduga perbaikan ini dilakukan asal jadi karena memanfaatkan material bangunan yang tidak sesuai spesifikasi. Hal ini antara lain disampaikan oleh Rafael Jerubu, salah seorang warga Desa Jaong, Selasa (01/09/2015).
Rafael mengatakan, perbaikan yang sekarang sedang dilakukan tidak lebih dari sekadar formalitas. “Saya lihat, yang mereka lakukan itu hanya bersifat sementara, tidak akan tahan lama. Pemeliharaan yang tidak jelas. Hanya supaya orang tahu saja, jembatannya sudah mereka perbaiki. Dari segi mutu pekerjaan, sangat, sangat kurang menurut saya,” ungkap Rafael.
Menurut Rafael, material pasir yang digunakan oleh kontraktor untuk kegiatan perbaikan ini sangat jauh dari standar spesifikasi. Pasalnya, sudah menjadi pengetahuan umum semua warga Desa Jaong, cadas yang sekarang mereka jadikan pasir merupakan material batu kapur. Bahkan hal ini, diakuinya, sudah diketahui pula oleh kontraktor yang bersangkutan karena toh tidak dipakai saat pembangunan awal jembatan.
“Sebagai pasir ‘kan mereka gali cadas yang di dekat jembatan itu. Padahal itu ‘kan, semua orang tahu, itu bukan pasir. Itu cadas batu kapur. Warga di sini tidak pernah pakai itu untuk bangun rumah. Cadas yang di sana itu lekat, model tanah. Juga kalau itu pasir, kenapa mereka dulu waktu bangun awal, malah ambil pasir dari tempat jauh. Dulu ‘kan ambil pasir dari daerah dekat Borong,” tuturnya.
Pengakuan Rafael dibenarkan oleh Bernadus Mahat, Polus Paput, Klemens Jehadut, dan Very Anggul. “Saya itu hari, coba pegang dan ramas, kok langsung hancur. Tidak seperti pasir yang lain ‘kan mestinya ada sisa krikil. Kalau yang di sana itu ‘kan lengket dia. Kalau taruh di jalan, bisa bikin jalan licin kalau masih basah,” ungkap Bernadus dibenarkan oleh ketiga warga yang lain.
Warga berharap, Dinas Pekerjaan Umum (PU) segera mengambil alih pengerjaan perbaikan jembatan ini. Apa yang ditunjukkan oleh kontraktor persis tidak bisa dipercaya lagi. “Kita harap, PU sendiri langsung turun tangan saja kerjakan jembatan ini. Kita tidak mau, dikira selesai, padahal asal jadi. Ini ‘kan mumpung pemerintah ada perhatian ke sini. Karena tidak mungkin pemerintah bisa lihat ini kalau belum lama, sudah rusak lagi,” ujar Rafael.
Dari sisi standar mutu pekerjaan, warga berharap, perbaikan kembali Jembatan Wae Tibong bisa memenuhi kualitas yang ditargetkan oleh Dinas PU.
Sebelumnya, Kepala Dinas PU Kabupaten Manggarai, Ketut Suastika menyebutkan, daya tahan jembatan yang baik bisa mencapai usia setengah abad. “Kalo tidak ada bencana, jembatan sampai dengan 50 tahun,” ungkap Suastika kepada Cendana News sebelumnya melalui pesan singkatnya, Kamis (06/08/2015).
Pantauan Cendana News, aktivitas perbaikan Jembatan Wae Tibong kini hampir selesai. Sejumlah pekerja pun tampak terus berusaha menyelesaikan perbaikan. Namun, perbaikan ini tampak tidak cukup memberi solusi yang diharapkan. Sejumlah titik yang sebelumnya terlihat retak dan hampir patah, karena diduga dibangun di atas tanah tampung, persis hanya ditutupi dengan campuran material pada bagian permukaan.
Tampak ada upaya membangun oprit mulai dari dasar kali, tapi itu hanya dilakukan pada sebagiannya yang sudah roboh. Sementara pada setengah bagian lain yang juga sudah retak dan berpotensi hampir roboh tampak dibiarkan dibangun di atas tanah tampung seperti semula. Lalu terkait dengan material pasir yang dipakai, para pekerja tampak pesimis dan tidak memberikan jawaban saat ditanya, apakah cadas yang mereka gunakan adalah benar-benar pasir.
Sementara itu, dihubungi melalui telepon seluler untuk dimintai konfirmasi terkait kelayakan spesifikasi material, Suastika mengakui, pihaknya belum mengetahui. Terkait dengan hal ini, dirinya meminta dibawakan sampel material untuk diuji secara laboratorium. “Bawa aja sampel materialnya ke sini, pak. Biar kita lakukan uji laboratorium,” ujar Suastika.
SELASA, 1 SEPTEMBER 2015
Jurnalis : Fonsi Econg
Foto : Fonsi Econg
Editor : ME. Bijo Dirajo