Musim Kemarau, Penjualan Jerigen dan Drum Air Meningkat

LAMPUNG — Musim kemarau yang membawa beban serta kesulitan bagi sebagian besar warga di wilayah yang kesulitan air justru menjadi berkah bagi pemilik toko jerigen, drum air. Salah satu pemilik toko jerigen air, drum air di Desa Hatta Kecamatan Bakauheni Kabupaten Lampung Selatan, Haji Samsuri mengaku penjualan di tokonya naik sekitar 60 persen sepanjang musim kemarau dibanding musim penghujan.
Samsuri mengungkapkan, meningkatnya penjualan wadah berbahan plastik tersebut terjadi karena penggunaan jerijen, drum sangat diperlukan selama musim kemarau untuk menampung air. Pembeli sebagian besar berasal dari wilayah setempat yang merupakan daerah perbukitan kapur padas yang saat musim kemarau warga kesulitan air bersih.
“Daerah di sini memang banyak memiliki sumur namun karena musim kemarau banyak yang kering sehingga harus mengambil dari air dari Way Pisang yang jaraknya bisa mencapai 1 kilometer menggunakan jerijen,”ungkap Haji Samsuri saat ditemui Cendana News di tokonya, Senin (21/09/2015).
Kenaikan penjualan diakui Samsuri sejak bulan Juli sebab sebelumnya ia menyiapkan sebanyak 100 jerigen dan terjual rata rata 60 jerigen perbulan. Selain jerigen juga warga banyak membeli drum berukuran 200 liter. Untuk jerigen ukuran 20 liter dijualnya dengan harga Rp35.000,- sementara untuk drum plastik berukuran 200 liter dijualnya Rp200.000,-.
Besarnya permintaan akan wadah air tersebut membuatnya menambah pasokan jerigen, wadah plastik yang merupakan wadah bekas pembuatan jus minuman, bekas pupuk cair, bekas minyak goreng, serta jerigen bekas lainnya. Ia mengaku untuk jerigen tertentu harus dicuci terlebih dahulu untuk menghilangkan bau sebelum dijual. Puluhan jerigen diletakkan di beranda toko miliknya sementara sebagian di simpan di gudang dan akan dikeluarkan jika ada yang membeli.
“Ada kalanya jerigen bekas bensin, minyak yang beraroma sehingga harus dicuci dengan pasir dan air sampai tak ada aromanya sehingga laku dijual,”terangnya.
Ia mengaku pembeli biasanya lebih selektif memilih karena air yang dipergunakan akan dipakai untuk mandi, mencuci bahkan untuk minum. Sisa sisa minyak atau bahan cair lain yang masih beraroma pun mempengaruhi penjualan jerigen yang dijualnya. Ia bahkan pernah mengalami jerigen yang dijualnya tak dibeli orang karena beraroma pestisida. Namun kini ia tak menerima pasokan jerigen bekas pestisida.
Sepanjang bulan September ini ia mengaku mendatangkan sekitar 200 wadah plastik berupa jerigen, drum dari wilayah Bandung Jawa Barat. Penjual barang tersebut akan mengirimkan sesuai permintaan darinya berdasarkan banyak sedikitnya permintaan.
“Kalau sedang banyak permintaan seperti pada musim kemarau seperti sekarang ini saya memesan banyak dan alhamdulilah banyak yang beli,”ungkapnya.
Kondisi musim kemarau yang membawa berkah baginya tak serta merta membuatnya senang. Ia mengaku tetap berharap musim penghujan segera datang karena ia dan keluarganya yang menggunakan sumur bor pun terpaksa mengalami menurunnya debit air bersih sepanjang musim kemarau ini.
Selain dibeli oleh warga untuk keperluan keluarga,jerigen serta drum miliknya juga dibeli oleh penjual air bersih keliling. Bagi penjual air bersih keliling ia mengaku memberi harga lebih murah karena akan dipergunakan untuk usaha.
Saat ini beberapa penjual air bersih menjual air bersih dengan jerigen yang diambil dari mata air dengan harga Rp10ribu per jerigen. Penjual air bersih akan menjajakan air bersih menggunakan mobil atau kendaraan roda dua dan berkeliling ke kampung kampung menawarkan air bersih.
SENIN, 21 September 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Foto            : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...