Kemarau, Pertamina Tekan Penggunaan Air dari Waduk Wain Balikpapan

BALIKPAPAN — PT Pertamina (Persero) Refinery Unit V menekan volume air yang disedot dari waduk sungai Wain dari 600-700 meter kubik per jam menjadi hanya 500 meter kubik per jam. Mengingat selama masa kemarau level waduk itu terus mengalami penurunan.
 “Supaya air di waduk tidak cepat habis,” ucap Manager General Affairs, Samsuddin di Balikpapan, Senin (13/9/2015).
Disebutkan, waduk sungai wain merupakan 1 dari 3 sumber air yang menyokong kegiatan produksi kilang. Dengan kontribusi sebanyak 70 persen. Kedua sumber lainnya yakni pengelohan air laut yang memberi kontribusi sebesar 20 persen dan sumur dalam 10 persen.
Sedangkan kebutuhan air untuk menunjang produksi kilang sebanyak 600-700 meter kubik per jam. Dengan rincian 420 meter kubik per jam dialokasikan untuk mendukung operasional pembangkit sistem power plan yang berfungsi sebagai penggerak turbin guna menghasilkan energi listrik yang sebagian untuk operasional kilang. Selanjutnya, sebanyak 200 meter kubik per jam untuk mendukung kegiatan proses produksi dan 120 meter kubik per jam untuk pemakaian utilities. Misal untuk pendinginan dan pembersihan. 
“Kalau kebutuhan kilang sifatnya mandatori. Yang bisa diatur perkantoran dan perumahan,” terang Samsuddin.
Lebih lanjut dia menerangkan, dari total pasokan air yang diperoleh dari waduk sungai wain, 70 persen di antaranya didistribusi ke kilang sedangkan sisanya disalurkan ke kompleks perumahan pekerja dan area perkantoran. Lantaran kemarau panjang, penyaluran air ke kilang diperbesar menjadi 80 persen dan 20 persen ke rumah dan perkantoran. 
“Saat ini air yang didistribusikan ke rumah-rumah hanya pagi dan sore, yang tidak bisa dijangkau karena tekanan air berkurang dibantu dengan mengirimkan air menggunakan tangki,” jabar pria kelahiran Medan ini.
Apabila kemarau tak kunjung usai, komposisi penyaluran ikut berubah menjadi 90 persen untuk kilang.
Upaya optimalisasi sumber air terus dilakukan. Sumur digenjot menghasilkan 200 meter kubik per jam dari hanya 125 meter kubik per jam sedangkan pengolahan maksimal menghasilkan 200 meter kubik per jam. 
“Kalau pengolahan air laut menggunakan sistem filterisasi jadi akan mengalami degradasi kemudian dilakukan pembersihan baru bisa difungsikan kembali,” paparnya.
Samsuddin menyebutkan, upaya lainnya dengan memangkas konsumsi air. Seperti untuk utilities dari 120 meter kubik per jam menjadi hanya 50 meter kubik per jam. Termasuk menyetop aliran air ke kantor dan rumah-rumah dan menggantinya dengan membeli melalui jasa penjualan air.
Jika tidak, produksi kilang terancam turun. Kalau sudah begitu pasokan bahan bakar minyak (BBM) di dalam dan luar kota akan terganggu. 
“Keputusan menurunkan produksi tidak mudah makanya kami lakukan berbagai upaya. Kalau internal lewat optimalisasi dan penghematan, kami juga melakukan upaya eksternal,” tutur pria ramah ini.
Diketahui kapasitas kilang mencapai 250 ribu barel per hari. Keputusan menurunkan kapasitas akibat kemarau, ujarnya mengisahkan pernah dilakukan tahun 1997 silam. “Kami kan ada 2 kilang, kapasias 200 barel dan 60 barel. Yang diminumkan waktu itu yang kapasitas kecil menjadi hanya 45 barel,” sambung Samsuddin.
Sedangkan tindakan eksternal yang dimaksud berupa membersihkan pipa dari aksi pencurian air oleh warga. Utamanya di pemukiman yang dilalui pipa Pertamina. Tak main-main dari total 700 meter kubik per jam air yang diambil dari waduk sungai wain hanya 400 meter kubik per jam yang sampai ke kilang. Itu artinya, sekira 30 persen hilang di tengah jalan. Pipa membentang 11 kilometer (Km) dari waduk hingga kilang.
Ia berharap berbagai upaya yang dilakukan itu dapat terus menjaga produksi kilang dan menganggu operasional kilang.
SENIN, 14 September 2015
Jurnalis       : Ferry Cahyanti
Foto            : Ferry Cahyanti
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...