
KOTA BATU — Omah Munir bersama masyarakat, aktivis, seniman dan mahasiswa kembali memperingati 11 tahun meninggalnya pejuang Hak Asasi Manusia (HAM) Munir Said Thalib.
Kepala Divisi Monitoring Hukum dan Peradilan Malang Corruption Watch (MCW), Akmal Adi Cahya usai melakukan long march di alun-alun kota Batu menjelaskan bahwa peringatan sebelas tahun meninggalnya Munir kali ini mengambil tema “Anak Muda Menafsir Munir Melawan Lupa 2015”.
Menurutnya dengan tema tersebut diharapkan meskipun Munir kini telah meninggal namun ide-idenya tidak kemudian hilang bersama dengan jasadnya. Ide-ide Munir harus terus hidup dan terealisasi oleh para pemuda, karena di tangan pemuda inilah nantinya yang akan menjadi pemimpin bangsa.
“Kalau sampai para pemuda melupakan tragedi Munir ini, bisa-bisa pelanggaran HAM lainnya yang ada di Indonesia bisa ikut terbengkalai dan terlupakan. Karena bagi kami, tidak terungkapnya kasus Munir menandakan masih banyaknya yang harus diperbaiki untuk menangani kasus HAM di Indonesia,”imbuhnya.
Akmal berharap agar para pemuda paham dan ingat bahwa di Indonesia pernah terjadi kasus Munir, sehingga kasus seperti ini tidak boleh terulang lagi. Kasus Munir harus di tuntaskan, harus dijelaskan aktor intelektualnya.
“Kami juga menaruh harapan pada pemerintahan Jokowi-JK agar berani mengungkap dan menuntaskan kasus Munir dan kasus pelanggaran HAM yang sampai kini belum terselesaikan, pungkasnya.
Acara peringatan 11 tahun meninggalnya Munir diawali dengan Nyekar ke Makam Munir yang dilanjutkan long march menuju alun-alun kota Batu. Dan pada malam harinya juga akan di adakan tahlilan dan malam budaya di Omah Munir yang terletak di Jalan Bukit Berbunga kota Batu.
SELASA, 8 September 2015
Jurnalis : Agus Nurchaliq
Foto : Agus Nurchaliq
Editor : ME. Bijo Dirajo