Soal Keterangan Pers, Pemda Manggarai Bantah Klaim Kadis Pendukcapil

FLORES — Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Manggarai, Flores, NTT,membantah klaim Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Kadis Pendukcapil), Kanja Antonius, terkait membatasi wewenang para kepala dinas dan pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) memberikan pernyataan pers. Hal ini disampaikan oleh Wakil Bupati Manggarai, Kamelus Deno, di ruang kerjanya, Kamis (27/08/2015). baca juga: Terkait Keluhan Warga, Kadis Pendukcapil Manggarai Enggan Berkomentar
Deno mengakui, tidak ada aturan yang sama sekali menutup kemungkinan para kepala dinas ataupun pimpinan SKPD bisa memberikan pernyataan pers. “Undang-undang nomor berapa yang mengatur itu? Masa urusan SKPD, bupati yang ditanya. Dia yang urus KTP, ko bupati yang ditanya. Secara teknis ‘kan dia yang urus. Tapi soal kebijakan, ya bupati. Kalau soal teknis pekerjaan, ya tidak perlu tanya bupati,” ungkap Deno memberikan konfirmasi kepada Cendana News.
Deno mengakui, dalam kaitan dengan kewenangan itu ada banyak urusan di dalamnya. Ada yang menyangkut otoritas, tapi ada pula yang berkaitan dengan kompetensi teknis. “Ibarat mobil, dalamnya banyak onderdil. Dalam bahasa Inggris, ada istilah authority, ada competence. Competence itu banyak, dan itu berkaitan dengan dinas-dinas. Jadi, begitu ya,” jelasnya.
Sebelumnya, sebagaimana telah diberitakan, Kanja menolak memberikan penjelasan kepada pers saat hendak dimintai konfirmasi Cendana News perihal kinerja lembaganya yang menuai keluhan warga. Dirinya mengklaim  tidak memiliki wewenang untuk mengeluarkan pernyataan jika bukan atas dasar kehendak Kepala Daerah.
Kanja memperbolehkan wartawan memasuki ruang kerjanya, tetapi dengan syarat menanggalkan hasrat publikasi terlebih dahulu. “Kalau diskusi yang tidak untuk dipublikasikan, bisa. Tapi kalau mau dipublikasikan, biasanya satu pintu saja. Kalau diskusi sebagai keluarga, sebagai teman, tidak dipublikasikan, bisa,” ujar Kanja.
Lebih lanjut, Kanja bahkan menuding kehadiran wartawan di ruang kerjanya hanya mengganggu rutinitas dia sehari-hari. “Inikah, makin lama keraeng diskusi dengan saya di sini, makin banyak pekerjaan terabaikan. Berapa puluh orang sudah tunggu saya di luar,” ujarnya.

KAMIS, 27 Agustus 2015
Jurnalis       : Fonsi Econg
Foto            : Fonsi Econg
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...