“Bung Karno itu Bapak Proklamator. Sedangkan, Pak Harto itu Bapak Pembangunan. Keduanya sama-sama berjasa. Berjuang membesarkan negara ini”, kata Sigit.
“Apa hasil dari reformasi saat ini? Semua justru bermasalah”, cetus Sigit.
“Pak Harto waktu itu bilang, tidak akan tinggal glanggang colong playu”, kata Sigit.
“Pak Harto itu kesatria. Pemimpin besar dan dikagumi. Saya tidak bermaksud melebih-lebihkan. Tapi, di zaman Pak Harto keamanan itu terjamin. Ekonomi stabil. Tidak ada orang berani main hakim sendiri”, ucap Sigit.
“Dengan memasang spanduk bergambar Pak Harto dan Bung Karno itu pun saya tidak berharap lebih. Kecuali, hanya berharap agar masyarakat mengenang jasa-jasa beliau yang telah berjuang untuk negara ini”, tegas Sigit.
Senada dengan itu, Diah Ayu Retno Wibiasti (18), remaja asli dusun Teguhan yang baru saja tamat SMA juga mengatakan, Soeharto dan Soekarno itu sama-sama telah berjasa besar bagi bangsa ini. Kalau tidak ada keduanya, negara tidak akan bisa seperti sekarang ini.
Menurut Ayu, Bung Karno dan Pak Harto itu tidak bisa dibandingkan. Tidak ada Bung Karno, tidak akan ada Pak Harto. Tidak ada Pak Harto juga tidak akan ada Bung Karno.
“Kalau tidak ada Pak Harto, mungkin Bung Karno waktu itu bingung mau memberikan mandat Supersemar kepada siapa. Kan yang bisa dan mampu mengemban amanat waktu itu ya hanya Pak Harto. Dan, terbukti Pak Harto bisa membangun bangsa sampai sebesar ini”, cetusnya.