Lobster Jadi Buruan dan Sumber Penghasilan di Pesisir Lampung

LAMPUNG — Potensi perikanan tangkap masih menjadi mata pencaharian bagi masyarakat yang tinggal di pesisir Kabupaten Lampung Selatan. Bahkan kontur alam pantai yang dipenuhi dengan koral serta batu batu karang yang masih alami, menjadi tempat hidup habitat biota laut khususnya lobster.
Potensi tersebut dimanfaatkan oleh warga di perairan Dusun Penobakan, Dusun Yogaloka serta beberapa dusun di pesisir pantai Lampung Selatan. Beberapa warga bahkan sehari hari mencari lobster laut dengan alat tradisional jenis tombak atau alat khsusus buatan sendiri seperti alat perangkap. Pencarian dilakukan pada pagi serta sore hari serta waktu tertentu tergantung kesiapan.
Kegiatan masyarakat mencari udang laut serta ikan ikan lain yang ada di karang karang pesisir tersebut, menurut Ahmad (34) sudah berlangsung selama bertahun tahun. Kondisi perairan yang ada di balik perbukitan, jajaran Gunung Rajabasa membuat kondisi perairan masih terjaga dari jamahan tangan tangan tak bertanggungjawab dan pencemaran.
“Perairan di sini masih jernih dan masih alami sehingga banyak udang laut atau ikan ikan besar jenis kerapu yang bersembunyi di balik batu batu karang yang bisa menjadi sumber nafkah bagi kami,”ungkap Ahmad kepada Cendana News, Rabu (05/08/2015).
Udang laut hasil tangkapan dengan tombak atau perangkap lobster tersebut kemudian dikumpulkan di pinggir pantai. Selanjutnya akan dikirim ke beberapa restoran sea food yang menjadikan menu lobster sebagai hidangan utama. Harga jual yang tinggi dibanding dengan tangkapan laut jenis lain menyebabkan mereka memilih mencari udang laut tersebut.
Sementara itu warga lain Zainudin (34) yang sehari hari bekerja sebagai petani mengaku jika sedang tidak sibuk di kebun ia mengatakan setiap hari ia dan rekannya mencari lobster menggunakan jaring yang dipasang di perairan yang diyakini merupakan tempat lobster.
Ia mengungkapkan, tidak setiap hari mencari lobster namun terkadang memasang perangkap di tempat yang diyakini menjadi tempat persembunyian lobster. Perangkap tersebut akan dilihat setelah dua atau tiga hari sambil dirinya melaut. Hasilnya pun tak menentu terkadang ia hanya mendapatkan satu dua ekor udang laut berukuran besar yang kemudian dikumpulkan dengan tangkapan sebelumnya di keramba atau dititipkan di tambak yang masih menggunakan air laut sebelum lobster tersebut dijual.
“Hasil tangkapan kami tidak pasti kadang hanya 1,5 kg, kadang juga banyak. Paling banyak saya dan rekan saya dapat lobster 3 kilogram tapi kadang tidak memperoleh dan hanya dapat udang jenis lain serta ikan ikan karang,” kata dia.
Menurutnya beberapa spot yang sering menjadi lokasi berburu lobster diantaranya di Penobakan hingga Tanjung Tua yang menjadi sarang lobster. Meskipun demikian banyak juga yang datang ke lokasi tersebut bukan untuk berburu lobster melainkan berburu ikan dengan memancing dari bibir tebing.
Lobster yang sudah terkumpul dijualnya dengan harga Rp.250ribu hingga Rp.350ribu mulai dari ukuran 0,5 kilogram atau bahkan kurang dari harga tersebut tergantung ukuran. Sementara ikan lainnya dijual di tempat penjualan ikan atau terkadang dikonsumsi sendiri. Penghasilan yang menjadi tambahan dari berburu lobster tersebut dipergunakan untuk keperluan sehari hari atau untuk membiayai sekolah anak.
“Kami menangkap lobster namun belum bisa membudidayakan kalau bisa sih bikin keramba tapi mahal biayanya dan kami tidak memiliki modal,”ungkapnya.
Ia berharap potensi tersebut bisa dijadikan peluang untuk instansi terkait melakukan usaha perikanan laut budidaya agar memberi penghasilan tambahan bagi masyarakat. Sebab selama ini masyarakat masih sekedar menangkap lobster dan jenis jenis ikan lainnya dan belum dibudidayakan.

RABU, 05 Agustus 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Foto            : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...