![]() |
| Koleksi Taman Baca Masyarakat Wacan |
MALANG – Berangkat dari obrolan santai bersama dua orang temannya mengenai anak-anak, dan keprihatinannya melihat anak-anak disekitar tempat tinggalnya hanya tertarik dengan permainan game. Di usianya yang masih muda, Leila Paramita (30) bersama kedua orang temannya Nihan Werdi dan Dwi Indri Novianti akhirnya mendirikan Taman Bacaan Masyarakat gratis (TBM) “Wacan” yang berlokasi di Jalan Tirtotaruno Gang XI RT 01 RW 08 Desa Landungsari Kecamatan Dau Kabupaten Malang.
“Kebetulan anak saya yang paling kecil suka sekali dengan cerita, sedangkan akses menuju Perpustakaan umum cukup jauh. Sehingga saya mengusulkan untuk membuat perpustakaan, dan ternyata usulan tersebut disambut baik,” ujar Leila di Malang, Minggu (7/6/2015).
Dari situ kemudian dibuatlah perpustakaan kecil-kecilan dan mereka bertiga mulai mengumpulkan buku koleksi mereka pribadi, tidak terkecuali koran-koran untuk dijadikan koleksi TBM Wacan. Namun setelah buku terkumpul dan tulisan Taman Bacaan Masyarakat Wacan terpasang, ternyata masyarakat dan anak-anak belum antusias untuk datang.
Akhirnya, Leila bersama kedua orang temannya tersebut membuat acara lomba mewarnai untuk sekaligus memperkenalkan TBM Wacan kepada masyarakat khususnya anak-anak.
“Alhamdulillah ternyata yang antusias mengikuti lomba tersebut cukup banyak, ada sekitar 50 orang anak yang mengikuti lomba mewarnai”, jelas Leila.
Dari situ kemudian pada tanggal 10 November 2011 yang juga bertepatan dengan digelarnya lomba mewarnai, kami bertiga sepakati menjadi hari berdirinya TBM Wacan,”katanya.
Untuk koleksi bukunya sendiri sudah ada sekitar 400 buku. Buku-buku tersebut sebagian kami dapat dari sumbangan teman-teman dan sebagian lagi kami beli sendiri. Meskipun perpustakaan ini di fokuskan untuk anak-anak, namun koleksi buku yang ada disini tidak hanya buku anak-anak seperti buku dongeng maupun komik. Terdapat juga buku untuk remaja dan juga ibu seperti novel, buku resep, buku motivasi dan juga buku keterampilan. Sehingga tidak hanya anak-anak yang bisa pinjam buku disini, para remaja dan ibu-ibu juga bisa menjam buku disini dengan gratis.
“Anak-anak sekolah yang punya tugas kliping juga biasanya datang kesini karena disini juga disediakan koran,” ucap Leila.
Di TBM Wacan setiap minggunya selalu diadakan kegiatan seperti belajar tentang pelajaran sekolah, permainan tradisional, ketrampilan, menanam, origami dan juga Bahasa Mandarin, karena kebetulan kami setiap minggunya juga dibantu dari teman-teman mahasiswa Universitas Machung. Tapi sayangnya yang datang ke kegiatan tiap minggu ini hanya 5-10 orang anak.
Selain kegiatan setiap minggu, ada juga kegiatan besar seperti kereta api pintar, peringatan hari buku Nasional dan juga lomba mewarnai. Kalau kegiatan besar seperti ini yang datang cukup banyak sekitar 40 orang.
Kami sangat bersyukur karena mendapat dukungan dari masyarakat dan ketua RT dalam menjalankan aktivitas TBM Wacan ini. Untuk saat ini kami lebih senang menerima bantuan berupa buku-buku bacaan yang bisa kami gunakan untuk menambah koleksi buku TBM Wacan dan kami juga menerima bantuan berupa pakaian layak pakai yang bisa kami jual kembali.
“Dari hasil penjualan pakaian layak pakai tersebut bisa kami gunakan untuk membiayai kegiatan TBM Wacan,”ujar Leila.
Dia berharap dengan adanya TBM Wacan ini, dapat menumbuhkan dan meningkatkan minat baca masyarakat khususnya anak-anak.



——————————————————-
Minggu, 7 Juni 2015
Jurnalis : Agus Nurchaliq
Fotografer : Agus Nurchaliq
Editor : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-