![]() |
| Seorang ibu saat hendak melakukan penimbingan dan pemeriksaan anaknya di Posyandu Desa Banyu Urip Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) NTB |
MATARAM – Berdasarkan data yang dilansir Badan Pemberdayaan Perlindungan Perempuan dan Anak (BP3AKB) Nusa Tenggara Barat (NTB), Angka kematian ibu selama tahun 2014 mencapai 129 kasus dan menyebar hampir di seluruh Kabupaten Kota. Salah satu faktor penyebabnya adalah pendarahan yang banyak.
“Kalau dilihat dari jumlah memang masih sangat tinggi dan ini menjadi perhatian dan salah satu programa prioritas BP3AKB, bagaimana angka kematian ibu tersebut bisa diminimalisir, bahkan kalau bisa tidak ada sama sekali ,” kata Kepala BP3AKB NTB, Wismaningsih Drajadiah di Mataram, Jum’at (5/6/2015).
Selain itu dia menyebutkan, sebagai upaya menekan angka kematian ibu di NTB, selain melalui program penyuluhan bersama Dinas Kesehatan NTB termasuk juga kader Posyandu, BP3AKB juga akan menggandeng para aktivis dan kelompok pegiat peduli perempuan dan anak sebagai mitra.
Ditambahkannya Selain angka kematian ibu yang masih tinggi, angka kematian bayi tahun 2014 meski mengalami penurunan dari tahun 2013 yang mencapai 52 kasus dan tahun 2014 hanya 47 kasus, namun angka tersebut memang terhitung banyak.
“Ketimpangan masalah gender juga turut menjadi salah satu penyebab kematian ibu di NTB, di mana banyak di antara ibu-ibu meski sedang hamil tetap bekerja seperti biasa, padahal normalnya harus mengurangi beban kerja dan perbanyak istirahat, namun dalam kenyataannya seringkali terlalu banyak bekerja,”kantor.
Selain itu, ia menuturkan, akses pelayanan kesehatan bagi ibu hamil yang kurang pun turut mendorong angka kematian ibu. Semisal di sebagian wilayah Desa Bayan, Kabupaten Lombok Utara (KLU) terdapat akses pelayanan kesehatan bagi ibu hamil masih lumayan sulit, karena lokasi yang terisolasi.
——————————————————-
Jumat, 5 Juni 2015
Jurnalis : Turmuzi
Fotografer : Turmuzi
Editor : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-