![]() |
| Pengrajin Batu Akik di Lampung |
LAMPUNG – Demam batu akik yang sudah terjadi selama beberapa waktu ini agaknya belum memudar. Berbagai jenis batu akik dari berbagai daerah di Indonesia berlomba lomba diunggulkan sebagai batu akik yang memiliki keistimewaan.
Harga yang fantastis untuk jenis tertentu membuat pecinta batu akik berlomba lomba mengumpulkan dari sekedar untuk koleksi hingga sebagai mata pencaharian.
Salah satu warga yang menekuni usaha dan sudah dikenal sebagai pengrajin batu akik berada di Desa Sidodadi Kecamatan Sidomulyo Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung. Usianya masih sekitar 16 tahun, demikian diungkapkan oleh Andrianysah Syahputra di rumahnya, Jumat (5/6/2015).
Andri, demikian ia dipanggil adalah salah satu putra dari Muslih yang juga menjadi pengrajin batu akik sejak lama bahkan sebelum demam batu akik mulai booming secara nasional.
Andri terlihat gesit memilah milah bongkahan batu berukuran sekepal tangan orang dewasa, kepala orang dewasa serta berbagai jenis batuan lain dengan berat beragam untuk diolah. Batu batu yang sudah dipilih tersebut kemudian dipotong menggunakan gerinda dan diasah lagi dengan alat pengasah khusus.
“Batu batu ini diperoleh dengan cara berburu di pinggir pinggir sungai di daerah Spontan, Sandaran yang ada di wilayah Sidomulyo bersama ayah saya dan beberapa kawan,” ungkap Andri sambil memotong bahan bahan batu akik.
Setelah batu batu bahan dari alam tersebut dikumpulkan maka Andri tinggal memilih untuk dijadikan batu akik maupun liontin. Menurut Andri saat ini beberapa batu yang dikumpulkan dari wilayah Sidomulyo diantaranya: Panca warna, Jesper, Tiger Skin, Sunkis. Kinyang Air, Aquarium Lumut, Lavender, Cempaka Madu,kecubung wulung, kecubung air, kecubung tanduk, badar besi, cempaka serta beberapa jenis batuan yang bagus untuk bahan akik.

Awalnya Andri dan sang ayah menjual batu bahan akik tersebut dengan cara kiloan atau dengan sistem borongan. Perkilogram batuan bahan akik dijualnya dengan harga Rp10ribu hingga Rp20ribu tergantung jenis batuan yang dijual ke berbagai daerah di Jakarta, Bogor, Garut, Bandung.
“Lama kelamaan demam batu akik semakin merambah hingga ke desa desa sehingga pemesanan dalam bentuk jadi, membuat saya menerima pesanan pembuatan batu akik di rumah,” ungkap Andri.
Andri banyak belajar dari sang ayah, Muslih yang terlebih dahulu menekuni kerajinan batu akik tersebut. Andri yang baru saja lulus dari salah satu Sekolah Menengah Pertama di Sidomulyo tersebut menurut sang ayah memang anak yang tekun, ulet dan nurut pada kedua orangtuanya.
Bahkan Muslih sang ayah mengaku, booming batu akik membuat sang anak bisa mencari “uang saku” sendiri dengan mengasah dan membuat batu akik hingga mendapat omzet sekitar Rp6juta perbulan. Jumlah yang cukup besar bagi anak seusia Andri.
Dalam proses pemesanan batu akik biasanya dalam satu hari ia bisa mendapatkan pesanan untuk membuat batu cincin sebanyak 30 buah, dengan biaya pembuatan sekitar Rp 20 ribu per buah.
Perhari dirinya bisa mendapatkan pendapatan rata-rata Rp 400 ribu. Sedangkan untuk harga pasaran batu cincin akik panca warna dan Jasper, kata dia, bisa mencapai Rp 100 hingga Rp 250 ribu per buah.
“Kebanyakan penyuka batu membawa bahan untuk dibuat. Hanya ada beberapa yang datang sambil mencari bahan batu. Untuk harga tergantung bentuk dan motif serta kualitas batu,” ungkap sang ayah sambil memilah milah bahan batu akik yang akan diolah.
Menurut Muslih sang anak memang anak yang pendiam namun saat bekerja bisa memperoleh batu akik dalam jumlah banyak. Ketekunan dan kerapian dalam proses pembuatan batu akik juga diakui oleh Dedi, salah satu penyuka batu akik. Dedi mengaku memesan batu akik kepada Andri dan hasil olahan batu akik yang dibuat oleh Andri termasuk halus.
“Saya memesan batu akik jenis sunkis dan ini hasilnya cukup bagus padahal kalau beli di pasaran di kota harganya bisa mencapai ratusan ribu,” ungkap Dedi.
Sementara itu Andri mengaku sebagian besar besar pengrajin batu akik di Kecamatan Sidomulyo seperti dirinya telah menggunakan alat mesin untuk membentuk batu dan menghaluskannya. Selain dalam bentuk batu cincin, terangnya, banyak juga pencinta batu yang membuat liontin.
“Jika melihat perkembangannya, booming batu mulia dan batu akik masih akan terus berlangsung. Saat ini saja penggemar batu akik tidak hanya para orang tua dan dewasa. Anak-anak remaja pun mulai banyak yang menggemarinya,” ungkapnya.
Besarnya omnzet pemuda lulusan SMP yang berniat melanjutkan di salah satu Sekolah Menengah Atas Negeri di Sidomulyo itu cukup beralasan, sebab pesanan batu akik diperoleh dari salah satu pemilik kios atau galeri batu akik di kota Kalianda.
“Orderan sedang banyak untuk dipajang digaleri dan biasanya akan semakin banyak jika ada kontes batu akik di deerah lain,” ujar Andri.
Andri bahkan mengaku dalam tiga hari dirinya bisa mengolah batu akik yang sudah jadi berbentuk cincin mencapai 300 buah. Batu batu akik tersebut dikumpulkan untuk selanjutnya diambil oleh salah satu pemilik galeri batu akik di Kalianda bernama Sutono.

Andri mengungkapkan di bulan Juni ini ia mendapat pesanan sekitar 1000 pieces batu akik berbagai jenis yang sudah diolah dan diasah mengkilat serta liontin.
Ketekunan Andri juga mendapat pujian dari pengrajin batu akik lain, Sumano (40) ia mengaku salut dengan ketekunan Andri yang meski masih muda namun bisa dengan cepat memproduksi batu akik olahan dengan cepat.
“Kalau saya sudah tua jadi agak lebih lama dalam memproses sehingga dalam sehari mungkin sedikit yang dihasilkan, tapi kalau Andri masih cukup bersemangat dan mampu memproduksi banyak,” ujarnya.
Usia muda tak menghalangi Andri untuk mengolah bahan bahan batu akik yang selama ini dijual ke luar Pulau Jawa dengan harga murah. Pengolahan batu akik berbagai jenis tersebut kini dijual dalam bentuk jadi sehingga omzet dan penghasilan pengrajin batu akik seperti Andri dan pengrajin lain bisa semakin meningkat.
Melihat peluang usaha batu akik yang sedang booming dan juga digemari tak lantas membuat Andri berpuas diri, ia menyadari tren batu akik akan ada masanya. Karenanya ia mengaku menabung uang hasil dari usaha batu akik tersebut dan menyerahkan kepada orangtuanya untuk disimpan sebagai bekal untuk biaya sekolahnya di SMA.
Sang ayah, Muslih dan sang ibu pun mendukung usahanya tersebut dan tetap menasehati sang anak agar menjadi anak yang hemat dan tidak neko neko meminta sesuatu meski sudah memiliki banyak penghasilan.

——————————————————-
Jumat, 5 Juni 2015
Jurnalis : Henk Widi
Fotografer : Henk Widi
Editor : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-