![]() |
| Ikan Asap dan Ikan Asin Air Tawar |
CENDANANEWS (Lampung) – Daerah Kecamatan Palas, Kecamatan Sragi, Kecamatan Ketapang di Kabupaten Lampung Selatan yang banyak terdapat sungai dan rawa membuat hasil ikan air tawar melimpah. Ikan air tawar tersebut tak hanya dibudidayakan di keramba yang ada di saluran saluran irigasi tersier, namun juga dibudidayakan di kolam kolam buatan dengan terpal, semen atau kolam tanah serta ikan dari hasil tangkapan di sungai sungai dan rawa yang banyak terdapat di daerah tersebut.
Banyaknya potensi ikan air tawar yang ada di daerah Palas membuat kaum ibu yang biasa berjualan ikan segar memanfaatkan ikan air tawar tersebut menjadi ikan asap yang lebih awet, selain diasap ikan ikan tersebut juga dijemur menjadi ikan asin air tawar yang dijual dengan harga lebih tinggi.
“Awalnya kami hanya berjualan ikan segar di tempat ini, namun karena saat melimpah ikan sering tidak laku maka kami awetkan dengan cara dijemur atau diasap,” ungkap Suratmi(45) kepada media ini Kamis (7/5/2015).
Suratmi mengaku berjualan di sekitar Tugu Pak Tani Kecamatan Palas sejak tahun 1990-an, kala itu ia bersama tiga orang kawannya berjualan ikan segar hasil budidaya di daerah tersebut maupun ikan tangkapan dari Sungai Way Pisang atau saluran saluran air di wilayah tersebut.
Jenis jenis ikan yang dijual diantaranya ikan lele, ikan Lembat, Ikan Kating, Ikan Gabus, Ikan Sembilang, Ikan Patin, Ikan Betik, Ikan Wader, Ikan Mujair, Ikan Sepat serta jenis jenis ikan air tawar lainnya.
Penjualan ikan ait tawar yang masih hidup tersebut dijalani oleh Suratmi, Saidah dan Sumini dengan beratapkan tenda dari terpal berwarna biru. Sejak pagi ketiganya serta terkadang penjual ikan lain membuka dagangan dengan beberapa ember besar yang digunakan untuk menampung ikan yang mereka jual.
Saat musim banjir, ikan yang ditangkap di wilayah tersebut terkadang melimpah dari para pengepul sehingga seringkali ikan yang mereka jual pun banyak yang tidak laku. Sekitar tahun 2000 ketiganya mendapat pelatihan dari kemlopmok pemberdayaan kaum perempuan melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perdesaan untuk pengawetan ikan air tawar dengan cara penjemuran dan pengasapan.
“Ikan yang diawetkan harganya lebih mahal karena selain proses pngerjaannya yang memerlukan modal banyak juga ikan asap serta ikan yang dijemur bisa bertahan lama disimpan,” ungkap Suratmi.
Menurutnya ikan asap yang dibuatnya merupakan hasil pengawetan ikan secara tradisional yang pengerjaannya merupakan gabungan dari penggaraman dan pengasapan sehingga memberikan rasa khas.
Ikan ikan yang akan diasap tersebut biasanya dibeli dari pemilik kolam atau pedagang ikan di daerah tersebut, untuk ikan Sembilang dibelinya dengan harga Rp40ribu perkilogramnya, ikan Gabus Rp30ribu perkilogramnya sementara ikan jenis lain dibeli dengan harga Rp20ribu perkilonya.
Selanjutnya ikan tersebut oleh keluarganya diolah menjadi ikan asap melalui tahapan tahapan dari mulai pembersihan ikan, memasak ikan, penggaraman hingga proses pengasapan dengan kayu bakar. Kayu bakar untuk proses pengasapan menurut Suratmi dibeli dengan harga Rp350ribu permobil ukuran L300.
“Proses yang lama, biaya produksi yang mahal membuat harga ikan yang kami jual memang mahal beda dengan ikan segar yang tidak diawetkan dengan cara pengasapan,” ujar Suratmi sambil menunjukkan kualitas ikan Sembilang asap yang dijualnya.



Ikan hasil asapan miliknya bahkan bisa bertahan hingga 1 bulan lebih. Tak mengherankan jenis ikan Sembilang Asap dijualnya dengan harga Rp120ribu perkilogramnya, ikan Gabus Asp dijual dengan harga Rp110ribu, ikan asin air tawar lainnya dijual dengan harga Rp40-50ribu perkilogramnya.
Terbukti dengan proses pengasapan tersebut ikan air tawar yang mereka jual selama ini memiliki nilai jual lebih dan disukai oleh para pembeli sebab ikan segar harus diolah pada hari itu juga tetapi ikan asap bisa diolah lebih lama. Melihat usaha kaum ibu yang mulai maju namun masih menjual ikan asap, ikian segar, ikan awetan di lokasi yang beratapkan terpal, maka sekitar dua tahun ini mereka sudah mulai memiliki lapak permanen.
“Lapak permanen terbuat dari semen dan atap asbes ini bantuan dari PNPM sehingga kami bisa berjualan di lapak yang lebih bagus dan lebih mudah berjualan, kalau dulu pakai terpal musim hujan angin bisa roboh sekarang tidak kuatir lagi” ungkap Suratmi.
Suratmi dan ketiga kawannya mengaku bisa mengantongi uang ratusan ribu rupiah perhari saat para pembeli memborong ikan asap milik mereka. Pembeli biasanya membeli ikan asap, ikan awetan tersebut untuk dijadikan oleh oleh saat musim mudik lebaran atau liburan. Pengolahan ikan dengan cara diawetkan tersebut menurut Suratmi dan kedua rekannya terbkti memberi nilai jual lebih bagi ikan yang mereka jual.
————————————————-
Kamis, 7 Mei 2015
Jurnalis : Henk Widi
Foto : Henk Widi
Editor : ME. Bijo Dirajo
————————————————-