Peternak Babi Tradisional di Bali Ingin Diperhatikan Serius

CENDANANEWS (Denpasar) – Setiap hambatan harus di sikapi dengan sabar jika ingin menjadi peternak yang sukses. Mungkin itulah yang ada di benak Gusti Ngurah Adnyana, seorang Bapak berusia 60 tahun yang telah menjadi peternak babi tradisional di bali sejak tahun 1980 setelah menerima tongkat estafet sebuah peternakan babi dari ayahnya di jalan Raya Dalung, Banjar Kaja, Kuta Utara.

Selain melayani penjualan bibit babi unggul, Peternakan babi milik Bapak Ngurah Adnyana juga melayani kawin suntik bagi babi ternak maupun babi potong. Proses kawin suntik yang dimaksud adalah, sperma babi jantan milik peternakannya di ambil secara tradisional dengan proses onani alat vital babi jantan, setelah itu di masukkan ke dalam tabung yang sudah tersambung dengan selang kateter, kemudian selang tersebut dimasukkan ke dalam kemaluan babi betina lalu semua sperma di dalam tabung di pompa masuk sampai habis.
Proses kawin suntik dilakukan karena sangat sulit jika harus memindahkan babi jantan atau betina di karenakan fisik babi ternak sangat besar. Dari pada keluar biaya ekstra, lebih baik di pakai teknologi.
” hasilnya pun sama, jika kawin normal, babi akan bersalin di bulan ketiga, lalu melahirkan 14 sampai 15 ekor anak babi, begitu pula halnya dengan kawin suntik,” jelas Pak Ngurah sambil menunjukkan peralatan-peralatan yang digunakan untuk kawin suntik.
Namun sebenarnya proses normal juga sangat baik. Dimana babi betina akan birahi kepada babi jantan, lalu menggoda si babi jantan untuk datang menghampirinya, dan jika babi jantan sudah tergoda barulah mereka berdua dijadikan satu kandang agar dapat kawin.
Pakan atau makanan juga sangat berpengaruh terhadap hasil anakan babi nantinya. Peternakan Pak Ngurah biasa memberikan pakan berupa campuran kangkung, talas, ubi, buah-buahan, dengan dedak. Dan untuk menambah protein, maka babi ternak biasa diberikan pula pakan konsentrat yang didatangkan dari Wonokromo, Jawa Timur.
Bibit babi unggul usia 1-3 bulan biasa dijual seharga 800 – 900 ribu rupiah per ekornya. Sedangkan untuk babi guling, biasa dijual seharga 1,5 sampai 2,5 juta rupiah per ekor dengan berat 35-40 kilogram. Biasanya untuk babi potong, lebih enak babi yang berkulit hitam karena dagingnya empuk dan kulitnya tebal jadi bisa dikembangkan dari sisi kuliner menjadi kerupuk rambak babi.
Kendala menjalankan peternakan babi tradisional tidak terlalu besar, karena babi merupakan hewan yang paling di cari oleh masyarakat Bali baik untuk kuliner Babi Guling atau untuk upacara-upacara keagamaan atau Upacara adat besar. Namun yang harus di perhatikan adalah dua penyakit yang sering di idap babi, yaitu virus SE (mendengkur saat tidur), dan kolera.
” sebagai antipasi, semua babi di peternakan saya ini selalu saya berikan vaksinasi, yaitu Betamox dan Sustapen dimana keduanya mengandung penisilin. Semua saya lakukan 1 bulan dan 3 bulan sekali. Pokoknya harus di rawat seperti bayi, kalau tidak ya saya juga yang rugi,” tutur Pak Ngurah kepada kami.
Kebersihan kandang dan fisik babi juga sangat diperhatikan dengan cara membersihkan sekaligus memandikan babi sehari dua kali. Semuanya dilakukan berdua sang istri tanpa bantuan siapapun. Harapan Pak Ngurah, pemerintah bisa memperhatikan peternak-peternak babi tradisional. Program Simantri yang dilaksanakan untuk Sapi Bali menjadi tolak ukur Pak Ngurah.
Menurut Bapak dua anak ini, babi merupakan ciri khas bali. Dari kuliner babi guling sampai kerupuk babi, itulah sebenarnya ciri khas Bali yang asli, jadi pemerintah provinsi sebenarnya jangan ragu-ragu untuk mengembangkan profesionalitas para peternak babi tradisional yang banyak tersebar di seluruh wilayah Bali. ” kita tidak minta uang atau bantuan untuk dikasihani, tapi ajari kita menjadi peternak babi profesional, dan bantu buka pemasaran kami agar bisa menjual babi hasil ternak kami sampai keluar Bali,” ucapnya menambahkan.
Semoga apa yang di harapkan Bapak Gusti Ngurah Adnyana bisa menjadi kenyataan, sehingga semua peternak babi tradisional menjadi peternakan babi profesional pemasok daging babi maupun bibit babi unggul ke seluruh Indonesia.
————————————————–
Minggu, 3 Mei 2015
Jurnalis : Miechell Kuagouw
Fotografi : Miechell Kuagouw
Editor : Sari Puspita Ayu
————————————————–
Lihat juga...