![]() |
| Pengunjung sedang melihat koleksi yang dipajang di Museum Brawijaya, Malang |
CENDANANEWS (Malang) – Satu lagi museum sejarah yang wajib di datangi saat mengunjungi Kota Malang, yaitu Museum Brawijaya. Museum ini berlokasi di sebuah jalan yang juga penuh dengan sejarah yaitu Jalan Ijen. Bangunan museum Brawijaya di resmikan dan dibuka untuk umum pada tangg 4 Mei 1968 oleh Kolonel Pur.Dr.Soewondo.

Saat memasuki halaman Museum Brawijaya, pengunjung akan di “sambut” 5 buah kendaraan tempur. Salah satunya yaitu AM.Track yang menjadi saksi dan bukti atas keberanian 35 orang pahlawan muda belia “Tentara Republik Indonesia Pelajar” (TRIP) yang gugur saat mempertahankan Kota Malang dari serangan Belanda saat Agresi militer 1.

Saat menaiki anak tangga menuju Museum, terdapat patung Panglima Besar Soedirman. Di pintu masuk museum, pengunjung diwajibkan membayar tiket masuk sebesar Rp.3.000,-. Selesai membayar pengunjung bisa langsung menuju ke ruangan pertama dari museum yang berisi berbagai macam senjata yang digunakan pada saat peperangan. Mulai dari berbagai jenis meriam, senjata laras panjang hingga pistol, dipajang.

Di museum tersebut memiliki alat perhubungan berupa radio yang digunakan para pejuang untuk berkomunikasi. Selain persenjataan, ditampilkan juga beberapa lukisan dan juga foto-foto yang menggambarkan peristiwa penting bersejarah yang berhubungan dengan Kemerdekaan Indonesia.
Selain itu terdapat juga seperangkat meja, kursi dan bendera yang digunakan Panglima Besar Jenderal Soedirman pada saat mengatur strategi perang Gerilya. Terdapat pula kutipan kata penyemangat dari Panglima Soedirman seperti “Korban sudah cukup banyak, prajurit sudah banyak yang gugur, Pantang mundur, lanjutkan perjuangan revolusi kita belum selesai”.
Di ruangan ini banyak pengunjung yang tertarik dengan senjata-senjata kuno yang dipajang, tak terkecuali Ali anak salah satu pengunjung ini terlihat serius memperhatikan satu demi satu senjata yang dipajang. Yani (Ibu Ali) mengaku bahwa dirinya baru pertamakali mengajak anaknya yang berusia 8 tahun ini datang ke museum Brawijaya.


Memasuki ruangan kedua, di ruangan ini dipajang berbagai tropi baik berupa piala, piagam maupun penghargaan lainnya diperlihatkan disini.
Memasuki bagian belakang museum yang juga merupakan bagian akhir dari perjalanan pengunjung di museum, terdapat sebuah gerbong maut yang merupakan salah satu gerbong dari 3 gerbong maut yang pernah digunakan Belanda untuk mengangkut 100 orang tawanan pejuang Indonesia dari tahanan Bondowoso menuju tahanan Bubutan Surabaya. Selama perjalan tersebut, gerbong kereta api ditutup rapat sehingga menyebabkan sebanyak 46 orang meninggal dunia.
———————————————————-
Minggu, 17 Mei 2015
Jurnalis : Agus Nurchaliq
Fotografer : Agus Nurchaliq
Editor : ME. Bijo Dirajo
———————————————————-