![]() |
| Kerta Gosa |
CENDANANEWS (Denpasar) – Kertha Gosa atau disebut juga Lokasi Pengadilan Adat yang bertempat di Alun-Alun Kerajaan Klungkung. Konon di masa kejayaan Kerajaan Klungkung abad 19, rakyat dapat menyaksikan langsung pengadilan adat dari luar istana.
Ida I Dewa Agung Gede Jambe atau dikenal dengan Ida I Dewa Agung Putra IV adalah Raja Klungkung yang naik Tahta pada Tahun 1904. Beliau adalah Raja Klungkung yang sangat di segani dan di takuti di Bali. Beliau sangat di cintai rakyat berkat kebijaksanaan dan keberaniannya.
Raja Agung Gede Jambe sangat tidak menyukai kehadiran pemerintah kolonial Hindia-Belanda kala itu. Beliau tidak mengakui keberadaan Pemerintah Kolonial Belanda, dan menolak segala bentuk upeti untuk Belanda.
Karena ketegasan dan sikap nya yang menolak kehadiran Pemerintah Hindia-Belanda di tanah klungkung, maka pada Tanggal 28 April 1908 (dua tahun pasca puputan badung) meletus pertempuran perlawanan Rakyat Klungkung di Pimpin Raja Agung Gede Jambe.
Tentara Kolonial Belanda yang merangsek masuk ke alun-alun istana dihadang oleh prajurit-prajurit Kerajaan Klungkung bersatu dengan Rakyat dalam sebuah pertempuran hebat yang tidak seimbang. Tentara Rakyat Kerajaan Klungkung di paksa mundur ke dalam area Kertha Gosa di alun-alun Istana. Raja Agung Gede Jambe yang sedang di buru untuk di bunuh oleh Tentara Belanda, mundur meninggalkan Kertha Gosa masuk ke dalam Gerbang Istana bersama seluruh Prajurit dan Rakyat Klungkung.
Disinilah muncul sebuah mitos sejarah bagi rakyat Klungkung. Konon saat Raja Agung Gede Jambe beserta prajurit-prajuritnya masuk ke pintu gerbang istana, Tentara Belanda terus memburu dan mendobrak pintu gerbang. Namun begitu terbuka, maka yang dilihat oleh Tentara-tentara Belanda kala itu adalah Hamparan Lautan biru nan luas, bukannya area Istana yang megah. Di liputi rasa takut dan geram, akhirnya Tentara Belanda mengarahkan semua Meriamnya dan menembaki area Istana di balik Pintu Gerbang dengan bertubi-tubi.
![]() |
| Putu Dharma |
” setelah selesai menghujani area istana dengan meriam, tiba-tiba menyerbu keluar sisa-sisa bala tentara Rakyat Klungkung dengan semangat ” mati tan tumut pejah ” (kematian menjadi jalan kehidupan) atau lebih dikenal dengan Puputan,” ungkap Putu Dharma, seorang yang mengaku rakyat klungkung biasa yang kami temui di depan Pintu Gerbang Istana.
Gugur dalam pertempuran tersebut Raja Klungkung Ida I dewa Agung Gede Jambe, Putra Mahkota Ida I dewa Agung Gede Agung Putra, seluruh pejabat istana, pengiring istana, dan seluruh Prajurit dan rakyat Klungkung yang tersisa kala itu. Dan saat pintu gerbang istana di buka, maka Istana Kerajaan Klungkung nan Megah sudah rata dengan tanah akibat bombardir meriam Tentara Belanda.
Sebuah semangat pantang menyerah mempertahankan harga diri dan kehormatan sebagai rakyat yang merdeka. Kisah Heroik yang sangat membekas di dalam diri dan hati masyarakat asli klungkung yang pemberani sampai saat ini.
” semangat puputan 28 April 1908 yang membuat kami tetap kuat sampai saat ini, dan sampai detik inipun kami tetap menjaga nilai-nilai dan semangat puputan klungkung sebagai pemersatu masyarakat klungkung,” Putu Dharma mengakhiri ceritanya sambil berpamitan untuk sembahyang di sanggah sekitar area Kertha Gosa dan di depan pintu gerbang istana yang bersejarah tersebut.





Area istana klungkung yang dulu Di bombardir meriam-meriam belanda sekarang digunakan sebagai Perumahan Dinas pegawai-pegawai Pemerintah Kota Klungkung.
Dan Kertha Gosa tetap berdiri sebagai saksi sejarah perjuangan Rakyat Klungkung.
————————————————-
Jumat, 8 Mei 2015
Jurnalis : Miechell Koagouw
Foto : Miechell Koagouw
Editor : ME. Bijo Dirajo
————————————————-
