![]() |
| Seorang tamu undangan nampak keluar meninggalkan masjid sambil membawa awon-awon (oleh-oleh) jajanan khas suku Sasak, Lombok |
CENDANANEWS (Mataram) – Dalam perhitungan penanggalan kalender islam, bulan rajab merupakan bulan di mana seluruh umat Islam di seluruh dunia memperingati isra dan mi’raj Nabi Muhammad SAW dengan beragam cara dan tradisi, mulai dari acara membaca shalawat Nabi dan zikiran bersama maupun mendengarkan ceramah agama.
Pulau Lombok yang juga dikenal dengan sebutan Pulau Seribu masjid, memiliki cara tersendiri memperingati perjalanan Nabi Muhammad menerima wahyu melaksanakan shalat lima waktu dari masjidil Aqsa menuju sidratul muntaha atau biasa disebut dengan istilah isra’ dan mi’raj.
Peringatan isra dan mi’raj, selain diisi ceramah Tuan Guru (Kyai) di masjid desa setempat, dengan mengundang pihak setiap kepala keluarga atau laki-laki dari desa tetangga, setiap tamu yang undangan di ahir acara menjelang pulang biasanya akan diberikan awon-awon berupa oleh-oleh berisi jajanan khas suku sasak berupa tarek, keciput, renggi dan angin-angin yang dibungkus menggunakan kresek pelastik besar.

Selain jajanan khas suku Sasak Lombok, awon-awon yang diberikan kepada tamu undangan juga disi dengan jajanan yang dijual di pasar serta pisang, saru tamu undangan terkadang diberikan awon-awon dua sampai tiga kresek besar untuk dibawa pulang ke rumah, sebab seringkali jumlah awon-awon yang dikumpulkan setiap kepala keluarga desa setempat lebih banyak dari tamu undangan yang datang.
Murdi warga asal desa Bonder, Kabupaten Lombok Tengah mengatakan, tradisi membawa awon-awon dari setiap menghadiri undangan peringatan isra mi’raj desa tetangga merupakan tradisi nenek moyang diwariskan turun temurun sejak dulu berbagi rizki dan kebahagiaan dengan warga lain, lebih-lebih setelah bulan rajab kan masuk bulan ramadhan, bulan penuh berkah.
“Membagikan awon-awon kepada tamu undangan di setiap ahir acara peringatan isra mi’raj selain sebagai bentuk berbagi rizki dan kebahagiaan dengan warga masyarakat lain juga kita harapkan akan bisa membawa berkah atas rizki yang didapatkan melalui hasil pertanian dan bercocok tanam” kata Murdi di Lombok Tengah, Senin (18/5/2015).
Nurmayanti warga lainnya menceritakan, satu minggu menjelang perayaan hari besar islam seperti Maulid Nabi Muhammad termasuk peringatan isra mi’raj Nabi Muhammad SAW, ibu-ibu biasanya sudah mulai membuat jajanan khas sasak, satu jenis jajanan sasak bisanya bisa dibuat sampai satu baskom atau ember besar.
“Membuat jajanan tidak bisa sedikit, tapi harus lebih banyak supaya anak-anak juga bisa kebagian, sebab jajanan yang dibuat, selain dinaikkan ke masjid, untuk diberikan dan dibawa pulang sebagai awon-awon oleh para tamu undangan, juga dibuat untuk dimakan keluarga di rumah,” katanya.

Nurmayanti menambahkan, jajanan dibuat banyak karena satu kepala keluarga diminta menyumbangkan jajanan lima sampai tujuh keresek karena jumlah warga yang diundang bisa mencapai puluhan orang, kalaupun ada tersisa , biasanya diberikan kepada anak yatim piatu.
—————————————————–
Senin, 18 Mei 2015
Jurnalis : Turmuzi
Foto : Turmuzi
Editor : ME. Bijo Dirajo
—————————————————-