| Pak Jon sedang memperbaiki sepatu kuda pada tahun 2014 lalu |
CENDANANEWS (Padang) – Bendi yang sudah jadi kendaraan tradisonal mayarakat Sumatera Barat (Sumbar) semakin hari semakin punah terlebih di Kota Padang. Jika 3 bulan yang lalu, di Kota Padang masih ada dua buah bengkel bendi yang beroperasi, sekarang tidak lagi.
Seperti yang ditemui cendananews di Kota Padang. Zarial, seorang mekanik bendi di daerah Komplek Mawar Putih, Kelurahan Korong Gadang, Kecamatan Kuranji Kota Padang. Telah menutup usaha bengkelnya sejak tiga bulan lalu.
“Jangan berharap pada pemerintah, tidak ada satupun dari instansinya yang bisa melestarikan budaya,” ujarnya di bekas bengkel bendinya, Minggu (10/5/2015).
Sebelumnya pada tiga bulan lalu, bengkel ini masih melayani reparasi dan perbaikan bendi, mulai dari pemasangan sepatu kuda hingga pembuatan bendi itu sendiri. Bengkel bendi Zarial ini lebih dikenal dengan nama “Bengkel Bendi Pak Jon” harus gulung tikar karena biaya hidup yang makin tinggi.
“Jika dulu spare part ada yang baru dan dapat di beli jika rusak. Sejak tahun 1994, tidak ada lagi yang baru, dan semuanya harus bikin sendiri. Sejak pemerintahan baru, harga yang melambung tinggi, saya tidak mampu lagi membeli alat-alat dan memproduksi ,” ujar Zarial yang akrab dipanggil Pak Jon ini.
Berbekal keterampilan yang didapati secara turun-temurun, Pak Jon sudah melakukan usaha ini sejak tahun 1990. Munculnya ojek motor, dan harga kredit mobil serta motor yang semakin murah membuat bengkelnya ditinggalkan pelanggan. Karena para kusir bendi telah beralih pekerjaan.
“Dulu dalam sebulan, ada 15-20 orang yang reparasi bendinya kesini. Sejak tahun 2008 pelanggan saya terus berkurang. Dan tahun kemarin saya sudah susah untuk memenuhi kebutuhan hidup. Awal tahun ini saya terpaksa menutup bengkel ini, karena tidak mampu membeli alat-alat untu perbaikan bendi,” beber Pak Jon sembari menerawang melihat bengkel bendinya.
“Dengan apalagi kami harus menghidupi keluarga? kami tidak memiliki keahlian lain. Saya hanya mampu menjadi kusir bendi, sekolah saja tidak tamat,” ujar seorang kusir yang tidak mau disebutkan namanya seraya memarkir Bendi.
Meski bengkel Pak Jon tidak lagi beroperasi, beberapa kusir masih sering singgah di bengkel ini. Setidaknya mereka bersilaturrahmi dengan Pak Jon yang sudah menjadi langganan perbaikan bendi mereka selama puluhan tahun.
Kota Padang, sangat jauh berbeda dengan Bukittinggi. Para kusir bendi disana masih mampu untuk berharap, karena Bukittinggi menjadikan bendi sebagai transportasi wisatanya. Berbeda dengan Kota Padang, para kusir bendi memekik dengan perkembangan Kota. Bahkan di Kota Padang tidak ditemukan terminal atau pangkalan Bendi.
“Saya sudah menyerah, dan tidak mampu lagi melanjutkan usaha bengkel bendi ini,” pungkas Pak Jon.
————————————————-
Minggu, 10 Mei 2015
Jurnalis : Muslim Abdul Rahmad
Foto : Muslim Abdul Rahmad
Editor : ME. Bijo Dirajo
————————————————-