Jalan Desa Ini Sudah Amblas Sejak 2013

Murid SD Melintasi Jalan Ambrol

CENDANANEWS(Lampung) – Warga di Desa Taman Baru Kecamatan Penengahan Lampung Selatan mengaku kesal dengan kerusakan jalan yang hingga kini belum diperbaiki. Salah stu titik di jalan penghubung lima Kecamatan yakni Kecamatan Kalianda, Bakauheni, Rajabasa, Penengahan dan Kalianda tersebut hingga kini dibiarkan ambrol dan belum diperbaiki. Kerusakan jalan dengan ambrolnya badan jalan bahkan sudah cukup besar.
Kepala Desa Desa Taman Baru Kecamatan Penengahan Lampung Selatan Indra Hariyanto Batu Bara mengungkapkan lokasi amblasnya jalan di ruas Jalan Lama Gayam-Kalianda tersebut sudah terjadi sejak tahun 2013.
“Awalnya lubang kecil sebesar satu meter di sebelah kanan arah Kalianda, namun lama lama karena hujan membuat konstruksi bawah gorong gorang tergerus air sehingga makin besar lubangnya,” ujar Indra Hariyanto kepada Cendananews.com di lokasi amblasnya jalan tersebut, Senin (20/4/2015).

Sebagai aparat desa, Indra mengaku sudah melaporkan kejadian amblasnya jalan tersebut bahkan sejak kerusakan baru mencapi 30 persen. Kini kerusakan jalan sudah memakan badan jalan sekitar 60 persen. Bahkan saat melaporkan kerusakan jalan tersebut yang dikoordinasikan dengan pihak Kecamatan Penengahan Indra mengaku mendapat jawaban dari pihak kabupaten Lampung Selatan bahwa jalan tersebut wewenang Provinsi Lampung.
Kerusakan jalan tersebut bahkan sudah disampaikan dalam kegiatan Musayawarah perencananaan Pembangunan (Musrembang) tingkat Kecamatan namun hingga kini meski sudah disampaikan tapi realisasi perbaikan belum ada.
“Kami sudah lama melaporkan, pihak kabupaten pun sudah melakukan pengukuran, tapi giliran dibuat laporan kerusakan ini merupakan tanggungjawab Provinsi, sementara Provinsi melimpahkan ke Kabupaten,” ujar Indra yang mengaku kekesalan warga tersebut terungkap dengan saling lemparnya tanggunjawab dalam pemeliharaan kerusakan jalan.
Indra juga mengaku akhirnya menunggu sampai ada keputusan terkait pihak mana yang akan turun tangan untuk memperbaiki kerusakan jalan tersebut. Sebab meskipun jalan tersebut ada di kabupaten Lampung Selatan namun dinas terkait masih melakukan koordinasi dengan pemerintah provinsi dan kerusakan yang sudah bertahun tahun akhirnya tanpa ada solusi, bahkan pemerintah provinsi pun akhirnya mengembalikan kewenangan ke pemerintah kabupaten.
Salah seorang warga lain Hambali (45) mengaku masyarakat ingin melakukan gotong royong untuk perbaikan jalan tersebut, namun karena keterbatasan dana maka masyarakat belum melakukan perbaikan, selain itu infrastruktur jalan merupakan kewenangan pemerintah untuk memperbaiki.
Bahkan pada tahap awal untuk mengantisipasi kerusakan makin parah, Indra bersama masyarakat desa setempat bahkan memasang rambu rambu peringatan berupa tulisan agar kendaraan roda empat jangan melintas. Namun himbauan tersebut tidak digubris bahkan dibuang.
“Kini setelah kendaraan roda empat memaksa lewat, kerusakan makin parah dan bahkan sisi lain badan jalan juga ikut amblas,” tegasnya.
Warga desa mengaku mengkuatirkan aktifitas anak anak sekolah dasar yang setiap hari melewati lokasi tersebut. Selain kuatir jika sewaktu waktu bagian jalan amblas, kekuatiran juga karena diakibatkan jalan makin menyempit sehingga jika ada kendaraan membuat anak anak sekolah harus berhati hati saat kendaraan melintas.
Indra juga mengisahkan akibat jalan amblas sering pengendara kendaraan roda dua mengalami kecelakaan di lokasi tersebut. Sebab pada malam hari pengendara yang tidak mengerti kondisi jalan tersebut memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi sementara penerangan lampu kurang.
“Posisi badan jalan yang amblas berada diantara tanjakan dan turunan dua arah sehingga sulit untuk mengantisipasi jika kendaraan dua arah sama sama kecepatan tinggi dan akibatnya bisa celaka di sini,” ujar Indra.
Selain memberi himbauan kepada kepala sekolah SD Taman Baru agar memberi peringatan kepada murid murid untuk berhati hati saat melintas di jalan ambrol tersebut, Indra selaku Kepala Desa Taman Baru mengaku kembali akan menembusi Dinas Perhubungan untuk memasang rambu rambu peringatan bahkan pengalihan jalur agar kendaraan roda empat tidak lagi melintas di jalur tersebut.
“Awalnya dipasangi kayu, peringatan, tapi warga pemakai kendaraan roda empat masih saja nekat, nanti kami akan meminta Dinsa Perhubungan agar memasang tanda peringatan pengalihan jalur,” tegas Indra.

Kerusakan jalan akibat gerusan air yang mengakibatkan jalan bahkan mengakibatkan tiang milik Telkom yang dipergunakan untuk penyangga kabel telpon ikut roboh. Warga terpaksa mengganjalnya dengan bambu agar kabel tersebut masih bisa ditahan oleh tiang besi yang sudah patah.

———————————————-
Senin, 20 April 2015
Jurnalis : Henk Widi
Photografer : Henk Widi
Editor : ME. Bijo Dirajo
———————————————-

Lihat juga...