Ibu ini Mamfaatkan Pacar Merah untuk Tambah Penghasilan

Bunga Pacar Merah
CENDANANEWS (Gianyar) – Untuk mendapatkan tambahan penghasilan, ibu – ibu di desa Keramas, Gianyar, mengisi waktu luang dengan berkebun pacar merah di pinggir sawah yang bunganya digunakan sebagai persembahan (banten). 
“Ini namanya bunga pacar, biasa kami gunakan untuk banten saat sembahyang,” tutur Gusti Ayu di Gianyar Bali, Rabu (22/04/2015).
Kebun pacar merah tersebut ditekuninya  sejak sepuluh tahun lalu. Berawal dari mengisi waktu sebelum atau sesudah panen padi, akhirnya kegiatan Gusti Ayu ini berlanjut sampai sekarang.
Bunga pacar merah tersebut bisa di uangkan dengan menjual ke Pendistribusiannya. Untuk wilayah Denpasar, bunga-bunga ini biasa di jual di pasar canang di jalan Kartini tepat di depan pasar badung, jalan Gajah Mada.
untuk menjual kedistributor, Gusti Ayu memiliki trik sendiri, yakni dengan menjual perkarung yang didalamnya dapat dimuat dengan beraneka ragam warna bunga.
“Lebih menguntungkan jika dijual per karung, karena warna bunga bisa kita campur, sehingga tidak ada sisa stok bunga warna tertentu. Dan biasanya harga jual kita di pasar adalah sama, yaitu Rp,50,000,- per karung,” kata Gusti Ayu yang dibenarkan Ni Luh, salah seorang rekan yang sama-sama menekuni perkebunan bunga pacar merah.
Disebutkan, meski saingan dari daerah lain banyak. Namun bunga pacar merah ini sangat dibutuhkan dalam proses persembahyangan umat Hindu di Bali, jadi hampir tidak ada persaingan tidak sehat jika sudah turun untuk berdagang di pasar tradisional.
“Saingan banyak, namun bunga ini merupakan kebutuhan masyarakat bali,”katanya.
Pohon Pacar yang sudah berbunga akan sangat harum dan indah warnanya. Butuh waktu selama 2 bulan untuk berbunga secara maksimal sebelum siap dipetik. Dan untuk melanjutkan pertumbuhan pohon pacar yang baru, maka digunakanlah bibit berupa biji dari pohon pacar itu sendiri.

Pupuknya juga sangat menentukan sebagus apa hasil panen bunga pacar tersebut. Jadi pupuk yang digunakan adalah pupuk urea dan pupuk mutiara yang berwarna hitam pekat.
“Salah satu kendala dalam bercocok tanam bunga hanyalah angin kencang. Karena jika angin kencang sudah datang, maka semua pohon tanaman kami akan rusak,” Gusti Ayu kembali menjelaskan kepada kami.

———————————————-
Rabu, 22 April 2015
Jurnalis : Miechell Koagouw
Fotografer : Miechell Koagouw
Editor : ME. Bijo Dirajo
———————————————-

Lihat juga...