Vigur Organik, Kelompok Tani Wanita yang Menekuni Bidang Pertanian Organik

CENDANANEWS – Sebuah kelompok tani yang terdiri dari ibu – ibu di Kota Malang, Jawa Timur menjadikan tanaman organik sebagai penghasilan. Berawal dari kelompok 10 orang, sekarang telah menjadi 22 orang dan usaha mereka telah mendapakan perhatian dan juga penghargaan dari berbagi pihak.

Usaha keras yang dilakukan oleh kelompok tani yang diketuai, Titiek Widayati Sugiantoro yang diberi nama “Vigur Organik”, saat ini telah memilihi lahan 9500m²yang ditanami tanaman organik, seperti tomat, sawi, cabai dan masih banyak lagi.

Saat menyambangi kediaman Titiek, cendananews.com, rabu (5/3/2015) mendapatkan banyak informasi dan dirangkum dalam tulisan ini.

Vigur Organik bemula saat Titiek menjabat sebagai ketua PKK, bersama dengan Ibu-ibu disalah satu pokjanya membentuk kelompok tani Vigur Asri yang beranggotakan 10 orang. Setelah dianggap Vigur Asri sudah bisa berjalan sendiri, baru kemudian Titiek membentuk kelompok tani baru yang diberi nama Vigur Organik beranggotakan 22 orang.

Vigur Organik memiliki lahan  seluas 9500 m² yang merupakan lahan milik pribadi dari para anggota. Pertanian yang dikelola kelompok tani Vigur Organik sudah sepenuhnya organik, mulai dari benih hingga pupuk.

Ada berbagai macam sayuran ditanam di lahan tersebut, seperti tomat, sawi, cabai dan masih banyak lagi, sekitar 42 sayuran yang biasa di produksi disana. Untuk perawatannya sendiri sama sekali tidak menggunakan bahan kimia, untuk mengatasi hama Titiek menggunakan cara manual yaitu dengan cara mengambil dan membuang hama secara langsung menggunakan tangan.

Titiek melanjutkan selain sayuran organik, Vigur Organik juga memproduksi produk olahan seperti Kecap manis kedelai,  kecap pedas kedelai, kecap manis untuk autis, sereal beras hitam, saos tomat, bumbu rujak, krupuk puli dari beras merah dan beberapa jenis produk olahan lainnya yang tentu saja bahan-bahan yang digunakan dari bahan organik.

Untuk memasarkan sayuran organik dan produk olahannya menurut Titiek tidaklah susah, biasanya untuk sayuran dia memasukkannya ke supermarket atau rumah makan yang ada di Malang atau bisa saja langsung ke konsumen akhir. Untuk saat ini pemasaran sayuran hanya didaerah Malang saja karena jika di pasarkan di luar kota dia belum menemukan travel yang tepat untuk mengangkut sayuran sampai ke tempat tujuan dengan aman. Namun untuk produk olahan sudah dipasarkan di beberapa kota di Indonesia seperti Blitar, Surabaya, Tulungagung, Tangerang, Sidoarjo, Jogja, dan Bekasi.

Titiek Mengatakan, Bertani secara organik sangatlah menguntungkan, selain harganya yang jauh lebih tinggi dari harga sayuran Non-organik, sayuran organik juga jauh sangat menyehatkan dibandingkan sayuran non-organik karena tidak mengandung bahan kimia. Selain itu, Usahanya tersebut dilakukan sebagai bentuk keprihatinan terhadap cara berfikir kebanyakan petani yang inginnya serba cepat, cepat bisa di panen, cepat bisa berbuah, cepat bisa di jual tanpa memikirkan akibatnya.

“Dengan bukti nyata dari Vigur Organik, diharapkan dapat menjadi contoh bagi masyarakat,”kata Ibu tiga anak tersebut.

Selain itu,  faktor pendidikan dan informasi yang kurang akan bahayanya sayuran non- organik dan bahan kimia bagi kesehatan menyebabkan kebanyakan petani enggan beralih ke pertanian organik.

Selain keunggulannya, Titiek juga memberikan tips bagaimana membedakan antara sayuran organik dan yang tidak. Untuk membedakan sayuran organik dan non-organik dapat dilihat dengan cara mencuci sayur dengan air bersih, kemudian didiamkan selama sehari maka sayuran non-organik akan mulai menguning dan membusuk sedangkan sayur organik akan tetap segar.

Untuk bentuk fisiknya, dia mencontohkan bahwa tomat. Kebanyakan tomat organik ukurannya lebih kecil dibandingkan tomat non-organik serta tampilannya kusam. Tapi bukan berarti tomat organik tampilannya selalu lebih jelek dibandingkan non-organik, dengan perawatan dan perlakuan yang benar maka sayur organik juga bisa tampil bagus.

Kelompok tani ibu-ibu terebut sering mendapatkan penghargaan yang diantaranya, pada 2010 kelompok tani Vigur Asri mendapatkan pengakuan organik bersertifikat dari PAMOR, tahun 2011 juara 2 kelompok tani kota Malang, kemudian bulan November pada tahun yang sama kelompok tani ini mendapat sertifikat SNI dari LESOS (Lembaga Sertifikat Organik Seloliman).

Usaha tersebut juga mendapat dukungan dari pemerintah setempat berupa, diantaranya pembuatan sertitifikasi organik, pembangunan gedung beserta isinya untuk sekertariat, kemasan dan alat-alat yang laing juga merupakan bantuan dari pemerintah, semuanya gratis.

Pemerintah sangat mendukung kelompok tani Vigur Organik, selain tujuannya sama dengan pemerintah yaitu menggalakkan pertanian organik di Kota Malang, juga dikarenakan kelompok tani Vigur Organik ini  semua beranggotakan wanita, dimana jarang wanita yang mau menggeluti dunia pertanian organik.

———————————————————-
Kamis, 5 Maret 2015
Jurnalis/Fotografer: Agus Nurchaliq
Editor : ME. Bijo Dirajo
———————————————————-

Lihat juga...