![]() |
| Heriyanto, Kapten kapal motor nelayan Berkah Mulia, Ukuran 30 GT |
Ironisnya belum jelas payung hukum peraturan tersebut kapan dikeluarkan, nelayan sudah harus dipaksa membeli solar dengan harga dua kali lipat dari harga biasanya yaitu sekitar Rp.6500,- per-liter. Akibatnya seperti yang dituturkan Heriyanto “Biasanya kapal saya menghabiskan dana operasional sekali jalan 2 sampai 3 juta (rupiah) sekarang harus mengeluarkan dobol (dua kali lipat) kasiang, padahal belum tentu sekali beroperasi kita bisa mendapatkan hasil tangkapan yang bagus kasiang..”
![]() |
| ABK Kapal Nelayan Berkah Mulia |
Menurut Heriyanto kebijakan pemerintah ini keliru sebab dasar peraturan mencabut subsidi solar untuk kapal diatas 30 GT (Gross Ton) tidaklah tepat “Bukan kapal yang menghabiskan minyak, tapi mesin… seharusnya peraturan itu diberlakukan bukan berdasarkan kapasitas kapal tapi ukuran daya mesin. Mesin kapal saya Cuma 120 PK walaupun ukurannya 30 GT, tapi ada banyak kapal di bawah ukuran kapal saya memakai jenis mesin yang sama bahkan lebih besar. Ini pemerintah tidak adil!” ungkapnya.
![]() |
| Suasana tempat istirahat ABK Kapal Berkah Mulia |
Sebagai negara dengan potensi laut yang melimpah, menjadikan nelayan sebagai anak emas untuk menggenjot hasil laut tak selayaknya hanya dijadikan barang dagangan di etalase jualan politiknya.
—————————————
Rabu, 18 Maret 2015
Jurnalis : Gani Khair
Editor : Sari Puspita Ayu
—————————————

