Seorang yang bertasbih, tidak mungkin bertasbih atau memahasucikan ia yang semisal/setingkat dengannya atau lebih rendah darinya. Pastilah pihak yang dimahasucikan haruslah berada "lebih tinggi" (a'la).
Jiwa kesulitan membedakannya kecuali setelah melihat kepada ruh, yang berjalan di atas jalan ketauhidan (jalan yang lurus), maka jiwa pun mengenali jalan yang lurus berdasarkan yang ia saksikan dari petunjuk yang diberikan oleh ruh.