Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi – 05/12/2025
Ada satu kenangan yang melekat kuat bagi banyak warga Indonesia. Khususnya bagi mereka yang tumbuh pada era Orde Baru. Kenangan itu: Pekan Penghijauan.
Hampir setiap tahun, sekolah-sekolah, kantor pemerintah, desa, dan kota sibuk dengan bibit, cangkul, karung pupuk, apel pagi sebelum turun menanam. Pada masa itu penghijauan bukan sekadar program. Tetapi ritual sosial. Sebuah gerakan kolektif menembus batas kelas sosial, umur, profesi, dan wilayah.
Generasi sekarang mungkin tidak lagi merasakan suasana itu. Penghijauan kini dilakukan terfragmentasi oleh komunitas, LSM, kampus, atau program pemerintah sektoral.
Memori masa lalu mengandung pelajaran penting. Keberhasilan reboisasi tidak hanya ditentukan oleh bibit dan dana. Tetapi ditentukan oleh keberhasilan membangun kesadaran kolektif yang mengikat masyarakat dalam aksi bersama.
Reboisasi di Indonesia memiliki perjalanan panjang. Masa kolonial fokus menanam jati untuk kebutuhan industri Belanda. Pendekatannya ekonomi: bagi kepentingan kolonial. Dilakukan Dienst van het Boschwezen pada akhir abad ke-19 .
Orde Lama masih mewarisi pendekatan teknis kolonial, namun minim gerakan publik. Orde Baru mengubah reboisasi menjadi gerakan nasional melalui mobilisasi sosial. Reformasi menambahkan pendekatan ekologis dan partisipatif, tetapi kehilangan ritme kolektif tahunan.
Jenis tanaman pun berubah mengikuti zamannya. Era kolonial: jati dan mahoni. Orde Baru: sengon, akasia, pinus, lamtoro, angsana, flamboyan. Reformasi: meranti, ulin, mangrove, petai, durian, tanaman multi-manfaat (MPTS). Namun titik paling menonjol dalam memori masyarakat adalah masa Orde Baru. Terutama karena skala gerakannya.
Mengapa gerakan penghijauan Orde Baru begitu masif?. Kita menggunakan kerangka teoritik sebagai pisau analisa. Kita cermati melalui kacamata tiga teori gerakan sosial yang relevan.
Pertama, perpektif Mobilization Theory (McCarthy–Zald): Gerakan kuat karena sumber daya terpusat.
Teori ini menyatakan sebuah gerakan berhasil jika memiliki: aktor organisasi kuat, sumber daya besar, struktur komando jelas, jaringan institusi yang solid.
Orde Baru memiliki semua itu: birokrasi vertikal dari pusat–desa, TNI sebagai penggerak lapangan, organisasi sekolah dan PNS yang disiplin, media tunggal (TVRI) untuk kampanye. Karena itu Pekan Penghijauan dapat menyentuh hampir seluruh warga.
Kedua, perspektif Collective Effervescence (Émile Durkheim): Ritual yang membentuk identitas bersama.
Durkheim menekankan masyarakat dapat merasakan “getaran kolektif” ketika melakukan tindakan bersama secara ritmis dan serentak. Pekan Penghijauan persis seperti itu: apel pagi, kerja bakti bersama, penanaman serempak, penghormatan simbolis pada pohon atau bibit.
Kegiatan itu menciptakan solidaritas. Bukan sekadar menanam. Ia menjadi pengalaman emosional bersama. Inilah mengapa generasi Orba masih mengingatnya puluhan tahun kemudian.
Ketiga, perspektif Social Learning Theory (Bandura): Kebiasaan lingkungan ditanam lewat keteladanan & repetisi.
Lingkungan sosial membentuk perilaku. Semakin sering seseorang melihat orang lain menanam pohon, semakin mudah ia menginternalisasi nilai penghijauan sebagai norma.
Mengapa ini efektif pada Orba?. Siswa melihat guru menanam, warga melihat PNS dan tentara menanam, desa melihat desa lain ikut bergerak. Kesadaran ekologis tidak hanya diajarkan. Tetapi dipraktikkan bersama.
Program penghijauan dan reboisasi rentang 1976–1997 menghasilkan 2,5 juta hektare rehabilitasi lahan (data Kementerian Kehutanan, berbagai laporan tahunan). Program Gerhan (lanjutan akhir Orba–awal Reformasi) mencapai lebih dari 1,1 juta hektare pada periode awal 2003–2007. Perhutani mencatat pencapaian tertinggi rehabilitasi hutan jati di Jawa pada 1980–1990-an. Melalui pola tumpangsari dan penanaman kembali ribuan hektare tiap tahun.
Angka-angka ini bukan tanpa kritik. Tetapi menunjukkan skala besar mobilisasi penanaman pohon pada masa tersebut.
Mengapa reboisasi Orba terasa lebih hidup daripada era Reformasi?. Itu disebabkan bukan hanya karena datanya besar, tetapi karena juga pendekatan sosialnya.
Upacara & ritme tahunan membuat penghijauan terasa seperti “musim”. Keterlibatan sekolah membuat generasi muda mengalami langsung proses penanaman. TNI & aparatur desa memastikan kegiatan berlangsung hingga pelosok. Media tunggal memberi narasi: penghijauan adalah bagian dari pembangunan nasional. Pilihan tanaman cepat tumbuh (sengon, akasia, lamtoro) memberi hasil visual dalam beberapa tahun. Cepat terlihat hamparan-hamparan hijau.
Reformasi memiliki banyak program rehabilitasi yang secara teknis lebih maju. Tetapi tidak memiliki ritual kolektif seperti era Orba. Gerakannya kuat di kebijakan, tetapi lemah di memori sosial.
Pengalaman masa Orde Baru memberikan pelajaran penting: reboisasi paling kuat jika berbasis gerakan sosial. Bukan sekadar proyek. Reformasi dapat mempertahankan prinsip ekologis modern — keragaman hayati, tanaman endemik, restorasi gambut, dan partisipasi lokal. Tetapi tetap perlu belajar dari kelebihan Orde Baru.
Reboisasi harus memiliki ritme kolektif: pekan, bulan, atau festival tahunan. Harus ada ruang publik untuk bergerak bersama, bukan hanya program sektoral. Pendidikan lingkungan harus bersifat praktik bersama, bukan hanya teori. Komunitas modern harus mengadopsi kembali model kerja bakti ekologis. Pemerintah perlu memfasilitasi, bukan memerintah. Tetapi tetap memberikan arah yang jelas.
Gerakan penghijauan hanya berhasil jika masyarakat merasa bahwa menanam pohon adalah bagian dari identitas. Bukan sekadar kewajiban.
Pekan Penghijauan era Orde Baru kini menjadi memori. Bukan nostalgia kosong. Ia contoh bagaimana negara dan masyarakat pernah bergerak bersama dalam satu napas. Dalam memori itu terdapat pelajaran: gerakan lingkungan membutuhkan bukan hanya program dan anggaran. Tetapi pengalaman bersama, kesadaran kolektif, dan ritual sosial yang mengikat.
Pada masa krisis iklim seperti sekarang, pelajaran itu semakin relevan. Kita tidak hanya membutuhkan bibit dan lubang tanam. Kita membutuhkan kembali roh kebersamaan yang pernah membuat penghijauan terasa sebagai bagian dari kehidupan.
Memori itu bukan untuk dipuja, tetapi untuk diolah menjadi inspirasi masa depan.
Jakarta, ARS (rohmanfth@gmail.com).