Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi – 02r/12/2025
Dunia modern sedang krisis spiritualitas. Semakin lama semakin dalam. Kemajuan teknologi, derasnya arus informasi, dan kehidupan serba cepat menjadikan manusia kehilangan pusat ketenangan batin.
Data global menunjukkan persoalan spiritual hari ini bukan sekadar masalah individu. Tetapi sudah menjadi persoalan sosial. Mempengaruhi kesehatan mental, relasi sosial, dan moralitas publik.
WHO mencatat lonjakan gangguan mental global. Gallup–Meta menegaskan epidemi kesepian menjangkiti sepertiga populasi dunia. World Happiness Report menggambarkan merosotnya kebahagiaan generasi muda akibat hilangnya makna hidup. Pew Research menyoroti kaburnya standar moral public. McKinsey menunjukkan kuatnya budaya konsumtif-materialistik. UNODC menampilkan meningkatnya kejahatan digital sebagai cerminan degradasi etika sosial.
Islam merupakan seperangkat nilai komprehensif bersumber wahyu. Menyediakan solusi hidup, termasuk solusi krisis spiritualitas. Berikut riset digital sepuluh daftar teratas krisis spiritualitas global. Beserta tawaran solusinya dalam Islam.
Pertama, kekosongan makna hidup.
WHO mencatat lebih 280 juta orang depresi. Ipsos (2023) menyebut 45% generasi Z merasa hidupnya hampa. Tidak memiliki arah. Membuat mudah cemas, mudah putus asa, dan kehilangan daya hidup.
Islam menegaskan orientasi eksistensial manusia ada dua saling melengkapi. Pertama, manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah. Mengarahkan seluruh pikiran, hati, dan perbuatannya sebagai bentuk penghambaan tulus (QS: Adz-Dzariyat ayat 56). Kedua, manusia diberi mandat sebagai khalifah di bumi. Mengelola, menjaga, dan memakmurkan dunia sesuai batasan moral dan hukum ilahi (QS: Al-Baqarah ayat 30 dan QS Hud ayat 61).