Pondok Pesantren Persada Agung IKN

Oleh: Abdul Rohman Sukardi

 

 

Dimana itu. Ponpes Persada Agung?.

Dari Balikpapan menuju Samarinda. KM 36 belok kiri. Bertemu SPBU, pom bensin kecil. SPBU satu-satunya dari KM 36 Balikpapan-Samarinda, sampai IKN. Berada di jalan satu-satunya akses menuju IKN. Ditarik garis lurus, kurang 5 KM dari IKN. Jika melalui jalan raya, bisa ditempuh sekitar 9 KM menuju IKN.

Pom itu dibuat mendadak. Pemilik tanah dihubungi tanggal 28 Juli 2024. Tanggal 2 Agustus 2024 dibangun pondasi. SPBU itu untuk mengantisipasi peserta upacara 17 Agustus 2004 di IKN. Ketika kehabisan bahan bakar di jalan.

Di belakang SPBU dadakan itulah, Pondok Pesantren Persada Agung itu dikembangkan. Sedang dibangun pelan-pelan. Sesuai ketersediaan sarana dan prasarana yang diperlukan.

Ceritanya panjang. Tahun 2006. Saya sebagai sekretaris Pengurus Pusat Persaudaraan Antar Guru Ngaji (Persada Agung). Diajak untuk mendampingi Dewan Pendiri Persada Agung: Kyai Syawqi Abdul Chalim Siddhiq dan Kyai MA Saiful Ridjal Jember. Melakukan pelantikan Korwil Persada Agung Kalimantan Timur. Ketua Korwil kala itu Ustadz Syamsul. Alumni Sidogiri. Tinggal di Penajam Pasir Utara (PPU).

Saya berlatar aktivis. Bukan sebagai santri tetap di Talangsari. Perinteraksian dengan kedua putra Kyai Abdul Chalim Shiddiq itulah yang membawa saya sebagai sekretaris Pengurus Pusat Persada Agung. Untuk membackup aspek manajerialnya. Kyai Abdul Chalim Shddiq merupakan kakak Kyai Achmad Shiddiq. Rais Aam PBNU tahun 1984-1991.

Saya tertarik terlibat di dalamnya. Salah satunya masih dekat peristiwa isu pembantaian Guru Ngaji di Banyuwangi tahun 1998. Berkedok dukun santet.Guru Ngaji merupakan pengajar baca tulis Al Qurán. Santrinya tidak banyak. Kadang 5 orang, atau lebih. Ada juga berjumlah banyak. Tapi jumlah Guru Ngaji itu sendiri jumlahnya banyak. Antara 25 sampai 50 orang perdesa. Per Kabupaten jumlahnya bisa mencapai 12.000 orang. Itulah investor pembangunan peradaban. Sukarela mengajar tanpa bayaran. Mengajar puluhan ribu santri aktif.

Ketika dikoordinir, Guru Ngaji memiliki perlindungan dari potensi kriminalisasi. Ada saluran untuk mengadu ketika jiwanya terancam. Sebagaimana peristiwa isu dukun santet tahun 1998. Guru Ngaji dituding sebagai dukun santet. Persada Agung menyediakan diri sebagai wadah advokasi.

Pelantikan Korwil Kalimantan itu berangkat 4 Orang. Kyai Syawqi, Kyai Saiful Ridjal, Ustadz Anwar Sukardi Kurniawan (Alumni Sidogiri) dan saya. Keliling mulai Balikpapan melalui Bukit Soeharto menuju PPU. Kemudian menuju Kabupaten Sepaku. Naik Feri ke Balikpapan menuju Samarinda. Juga Kutai Kartanegara. Mampir juga bersilaturahmi dengan Sultan Kutai dan Bupati Kukar.

Kegiatannya beragam. Pelantikan pengurus, seminar, semaan Al-Qurán dan Dzikrul Ghofilien. Di kota-kota yang disinggahi. Kyai Syawqi merupakan penggerak senior Semaan Al Qurán Mantab dan Dzikrul Ghafilien pada waktu itu.

Singkat cerita, terucap komitmen dari pak Dasuki. Anggota DPRD PPU dari Partai Golkar. Menghibahkan tanah kepada Ketua Umum Persada Agung, Kyai Syaiful Ridjal. Seluas 4 ha. Berupa lahan kebun sawit. Untuk dibangun Pondok Pesantren.

Prosesnya kemudian terjeda lama. Juga terpotong oleh banyak peristiwa. Tahun 2007 saya mulai pindah Jakarta. Saya tidak lagi terlibat dalam kepengurusan Persada Agung.

Tahun 2010 Pak Dasuki meninggal. Sebelum proses wakaf terselesaikan. Tahun 2011, Kyai Syawqi wafat. Belakangan, Ustadz Syamsul, korwil Persada Agung Kaltim juga wafat.

Hingga menjelang tahun 2020-an. Saya dikontak Gus Didin. Putra Kyai Syaiful Ridjal. Mengabarkan sedang mengurus proses administrasi hibah Pak Dasuki. Rupanya ahli waris Pak Dasuki masih ingat dan memegang komitmen. Bahwa tanah 4 ha itu dihibahkan kepada Persada Agung. Untuk dibangun Pondok Pesantren.

Saya usulkan Persada Agung membentuk Yayasan Persada Agung. Untuk mengelola asset wakaf itu. Rupanya jalan itu ditempuh. Tahun 2020 ahli waris Pak Dasuki membuat pernyataan hibah atas lahan itu. Di atas lahan hibah itulah, Pondok Pesantren Persada Agung sedang dikembangkan.

Lahan kebun sawit itu agak ke belakang. Tidak memiliki akses luas ke jalan besar. Di belilah lahan dekat jalan raya yang membatasi dengan lokasi pondok. Lahan itu dibeli Gus Didin. Untuk dibangun Masjid.

Ternyata lahan depannya diajak kerjasama untuk membangun SPBU oleh Pertamina.  Program darurat untuk suksesnya upacara 17 Agustus pertama kali di Ibukota baru. Itulah penanda Ponpes Persada Agung berada.

Belum tergambar kala itu (tahun 2006), lokasi ini akan menjadi IKN. Kini satu-satunya pesantren dalam radius terdekat dari IKN. Berpotensi menjadi pewarna spiritualitas dalam masa depan dinamika IKN.

Masjid masih sedang dipersiapkan. Rumah tinggal guru juga sedang dibangun. Setiap minggu dilakukan khataman Al Qurán keliling. Juga Dzikrul Ghafilien.

IKN sedang dibangun. Pondok Pesantren Persada Agung juga sedang dibangun. Partisipasi publik juga dibuka. Jika hendak bersama-sama mempercepat pembangunan pondok pesantren di Ibukota baru itu.

 

ARS (rohmanfth@gmail.com), Jaksel, 18-08-2024

Lihat juga...