Prosesi Pindah Rumah Danny Rukmana Gunakan Adat Jawa Sarat Makna

JAKARTA | Dwipanews.com – Kebahagiaan terpancar dari wajah Danny Bimo Hendro Utomo atau Danny Rukmana dan Andi Raiyah Chitra Caesaria Abdussalam. Saat pasangan suami istri ini menjalani prosesi pindah rumah baru dari rumah lama, yang lokasinya masih berada di Jl. Yusuf Adiwinata, Menteng, Jakarta Pusat.

Begitu pula dengan Siti Hardijanti Rukmana (Tutut Soeharto) dan Indra Rukmana, orang tua Danny Rukmana, terlihat sangat bahagia menghantarkan putra tercintanya pindahan rumah baru dengan prosesi adat Jawa. Yang digelar pada Senin Wage (12/2/2024) atau bertepatan dengan tanggal 1 Rewah Wuku Juluwangi Tahun Jimawal 1957 Windu Sancoyo.

Mengawali pindah rumah baru diadakan pengajian dengan hataman Al Quran 30 juz. Hataman Al Quran yang digelar di rumah baru Danny Rukmana, itu menyertakan ibu-ibu pengajian dari majelis ilmu Baitul Qurro dan Sabilina.

Pembacaan Al Quran ini sebagai ungkapan  syukur dengan harapan semoga semua aktivitas Danny Rukmana dan Raiyah di rumah baru ini dilimpahi dan diridhoi oleh Allah SWT. Dijadikan keluara sakinah, mawaddah dan marahmah, serta dilimpakan rejeki dan kesehatan yang pali purna.

Prosesi selanjutnya, Danny Rukmana dan Raiyah didampingi Tutut Soeharto serta keluarga besar keluar dari rumah lama menuju rumah baru dengan membawa Uborampe atau perlengkapan yang harus dibawa dalam prosesi pindah rumah adat Jawa. Di antaranya, sapu lidi, kendi, beras dan biji-biji tikar, bantal,  guling, cempor, pisang raja dan lainnya.

“Uborampe ini diharapkan membawa kebahagiaan dalam rumah tangga Mas Danny dan Mbah Raiyah, memberi kelengkapan nuansa rumahku surgaku,” ungkap Sofia Agus Surendro, istri Kepala Ndalem Kalitan, Solo.

Saat keluar dari rumah lama, proses menyapu  dengan mengunakan sapu lidi untuk membersihkan jalan agar perjalanan menuju k rumah baru lancar, tanpa ada halangan.

Lebih lanjut dijelaskan Sofia, kegiatan menyapu dengan sapu lidi ini merupakan penggambaran untuk mengusir segala kotoran, baik fisik maun non fisik.

Dalam prosesi  menyapu ini, Raiyah menggendong bakul berisi benih atau biji beras, padi-padian dan kacang hijau. Sepanjang perjalanan menuju rumah baru, Raiyah menaburkan benih dan biji-bijian tersebut.

Prosesi ini mengandung arti agar penghuni rumah baru memiliki keturunan yang baik. Juga memiliki ide cemerlang dalam mengapai kebahagiaan bahtera rumah tangga.

Sedangkan Danny Rukmana membawa kendi berisikan air. Air kendi ini dikucurkan sekeliling rumah baru. Dimaksudnya untuk membuat sejuk rumah baru yang akan ditempati.

Danny Rukmana dan Raiyah dengan didampingi Tutut Soeharto dan Indra Rukmana serta keluarga besar menjalani prosesi pindah rumah baru adat Jawa di Jl.Yusuf Adiwinata, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (12/2/2024). Foto: istimewa.

Saat Danny Rukmana mengucurkan air di sekililing rumah, Raiyah mendampingi dengan menaburkan beras, padi-padian dan biji-biji.

“Proses ini tujuannya adalah agar rezeki senantiasa mengalir masuk ke dalam kediamanmu. Kendi isi air bermakna sumber rejeki, pengadem, dan pengayom supaya dingin. Lampu (cempor) bertujuan agar senantiasa memperoleh pencerahaan dalam hidup,” jelasnya.

Selanjutnya, Danny Rukmana menanam penolak energi negatif di empat penjuru rumah baru. Ini diharapkan rumah tangga bisa memberikan kesejukan dan kebahagiaan dalam kehidupannya.

Prosesi terakhir di luar rumah, yakni Danny Rukmana memasang kaca di atas pintu masuk rumah baru. Posisi kaca menghadap ke jalan melambangkan untuk memantulkan kembali energi negatif dari dalam rumah.

Lebih lanjut Sofia juga menjelaskan, tikar adalah representasi dari keyakinan bahwa segala hal tentu memiliki alas atau dasar yang kuat.

Setelah semua proses pindah rumah adat Jawa di luar selesai berlanjut di dalam rumah dengan memanjatkan doa. Semua keluarga besar Tutut Soeharto berkumpul menggemakan doa-doa ucapan syukur kepada Allah SWT.

“Alhamdulillah proses pindah rumah baru Mas Danny dan Mba Raiyah berjalan lancar, semoga anakku selalu dalam lindungan Allah SWT dalam menempati rumah barunya ini, serta dilimpahkan nikmat sehat dan rejeki. Aamiin,” ucap Tutut.

Usai berdoa, Tutut Soeharto pun menyuapi rujak degan ke Danny dan Raiyah. Rujak degan yang rasanya manis ini menurut Sofia, mengandung makna kehidupan rumah tangganya agar selalu ceria dan semangat menebarkan kebahagiaan kepada semua penghuni rumah baru.

Rujak degan rasanya manis. Jadi kehidupan itu kalau kita minum manis biar semangat, semua harus merasakan manis merata. Tidak hanya  pemilik rumahnya yang merasa bahagia, tapi harus merata semua yang ada di rumah ini,” jelasnya.

Begitu pula dengan sayur bayem yang tersaji sebagai syarat jamuan dalam prosesi pindah rumah adat Jawa ini. Sofie menjelaskan, sayur bayem mempunyai simbol supaya kehidupannya adem ayem.

Sedangkan tumpeng telur (tumpeng krepyong) adalah simbol pengadem menyatukan. Adapun nasi gurih adalah simbol kemuliaan. Pisang raja diharapkan kepala rumah tangga menjadi raja yang bisa mengayomi dan melindungi istri dan anaknya.

Begitu juga dengan bunga yang tersaji dalam prosesi pindah rumah adat Jawa ini adalah simbol harapan bahwa nama penghuni akan harum di lingkungannya.

Sofia menjelaskan, proses pindah rumah baru adat Jawa adalah momentum sakral merupakan selamatan ungkapan rasa syukur  kepada Allah SWT atas apa yang diperoleh. Dengan mengadakan pengajian, dan mengundang keluarga dan saudara untuk hadir dalam balutan kebahagiaan.

Dalam prosesi ini semua yang hadir dapat menikmati ragam sajian menu makanan dan kue yang penuh makna kehidupan.

Pelaksanaan pindah rumah ini juga didasari penanggalan Jawa untuk menghitung hari baik

Dengan demikian menurut Sofia, tradisi ini tidak hanya mengajarkan rasa syukur atas nikmat berupa tempat tinggal keluarga memperoleh selamat dan dijauhkan dari segala celaka, juga mendapat nilai implisit berupa nasionalisme  agar pelestarian budaya dan adat istiadat agar selalu dijaga.

Lihat juga...