19 November 1988, Presiden Soeharto resmikan 11 Pabrik Petrokimia dan penggunaan Tol Jakarta-Cikampek

SABTU, 19 NOVEMBER 1988, Presiden Soeharto meresmikan 11 pabrik petrokimia yang tersebar diberbagai daerah, dan penggunaan jalan tol Jakarta-Cikampek. Acara peresmian berlangsung di pabrik pupuk PT Pupuk Kujang, Cikampek, Jawa Barat.

Investasi untuk 11 pabrik petrokimia tersebut mencapai Rp273,8 miliar. Dengan selesainya kesebelas pabrik tersebut, maka Indonesia akan dapat menghemat devisa sebesar US$96,8 juta per tahun di samping hasil ekspor sebesar US$37,05 juta.

Dalam sambutannya, Kepala Negara mengatakan bahwa industri petrokimia yang serentak diresmikan ini merupakan langkah penting untuk mengembangkan kemampuan kita agar dapat makin banyak mengolah kekayaan alam dan bahan baku yang dimiliki.

Dikatakannya bahwa untuk memantapkan industri petrokimia ini, sekarang kita sedang menyiapkan pembangunan industri petrokimia hulu seperti industri aromatik dan industri olefine.

“Dengan memiliki industri aromatic dan olefine, kita akan menghemat devisa dalam jumlah yang besar, kita akan dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri yang juga besar dan produksi industri aromatik itu sebagian akan kita ekspor.

Industri petrokimia, terang Presiden Soeharto, tergolong industri dengan penggunaan teknologi tinggi. Dengan membangun industri petrokimia sekaligus kita kembangkan kemampuan bangsa sendiri dalam rancang bangun dan rekayasa industri. Kemampuan ini mutlak harus kita miliki sendiri untuk memasuki tahap tinggal landas nanti.

“Kemajuan yang berhasil dicapai oleh tenaga-tenaga bangsa kita sendiri dalam rancang bangun dan rekayasa industri ini, mengalami kemajuan-kemajuan yang pesat. Namun kita tetap sadar, bahwa kemajuan-kemajuan tadi tetap kita anggap sebagai kemajuan awal. Dalam memasuki proses tinggal landas nanti harus makin banyak tenaga Indonesia yang memiliki kemampuan rancang bangun dan rekayasa industri dalam bidang-bidang yang harus makin luas pula,” demikian Presiden Soeharto.

Sementara terkait jalan tol Jakarta-Cikampek, Presiden Soeharto menyebutkan, peresmian tersebut memiliki arti ekonomi yang tinggi, karena jalan itu terletak di salah satu jalur lalu lintas yang terpadat di Indonesia.

Walaupun dalam jarak yang terbatas, jalan tol Jakarta-Cikampek akan menjadi jalur penghubung antara daerah-daerah yang sedang berkembang pesat di pulau Jawa dan daerah-daerah yang masa depan di pulau Sumatera.

“Dengan terus bertambah lancarnya hubungan lalu lintas tadi, maka daerah-daerah akan saling menjadi kekuatan pendorong bagi kemajuan masing-masing. Semuanya tadi pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan rakyat,” kata Presiden Soeharto.

[1] Dikutip dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 21 Maret 1988 – 11 Maret 1993”, hal 92. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: Nazaruddin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Lihat juga...