Alasan Mengapa Soeharto Wasiatkan Pegang Teguh Pancasila
Admin
JAKARTA, Cendana News – Presiden Soeharto pernah berwasiat agar generasi penerus bangsa berpegang teguh pada Pancasila dan UUD 1945.
Wasiat Presiden Soeharto tersebut tidak sekadar imbauan normatif, namun cerminan dari pandangan kesadaran historis bangsa ini.
Soeharto berwasiat untuk berpegang teguh pada Pancasila dan UUD 1945, karena alasan yang sangat mendasar atau ideologis.
Bahwa, Pancasila dan UUD 1945 mengandung spirit dan nilai-nilai kultural yang dipegang teguh oleh masyarakat Nusantara sejak lama.
Dan, spirit serta nilai-nilai kultural yang dipegang teguh oleh masyarakatnya itulah syarat tegaknya peradaban bangsa.
Soeharto menerima spirit dan nilai-nilai kultural Nusantara dari para leluhur. Dan, terus mentransformasikan kepada generasi-generasi selanjutnya.
Hal tersebut merupakan upaya menegakkan kembali eksistensi peradaban besar bangsa Nusantara.
Soeharto menjadikan Pancasila dan UUD 1945 sebagai roadmap ideologis bangsa ini.
Lantas, apa spirit dan nilai-nilai kultural Nusantara yang sudah terelaborasi menjadi Pancasila itu?
Buku Presiden Soeharto dan Visi Kenusantaraan karya Abdul Rohman mengungkapnya cukup gamblang.
Salah satunya adalah paugeran atau peraturan, prinsip hidup manusia asli Nusantara, seperti:
“Paugeran Urip Wong Nuswantara Iku Urip Rukun, Ora Gawe Loro lan Patine Liyan. Anane Crah Iku Krono Digowo Wong Monco lan Penjajah”.
(Prinsip hidup orang Nusantara itu hidup rukun, tidak melakukan perbuatan menyakiti atau menderitakan orang lain, dan menyebabkan kematian. Adanya pertengkaran atau konflik itu karena dibawa orang asing dan penjajah).
Dalam buku tersebut, menjelaskan karakter orang asli Nusantara adalah taat terhadap nilai-nilai transenden.
Yakin dan tunduk pada esensi dan nilai-nilai KeTuhanan. Memegang teguh harmoni dan kerukunan, keguyuban dan gotong-royong.
Menghargai keragaman, menolak segala bentuk perilaku yang bisa menyebabkan penderitaan dan kematian tanpa alasan yang benar.
Menurut Abdul Rohman dalam bukunya itu, saat ini karakter orang Nusantara mengalami degradasi hingga taraf yang mencemaskan.
Pertandanya adalah muncul perilaku destruktif untuk mencapai tujuan.
Abdul Rohman mengatakan, tercerabutnya karakter manusia Nusantara itu bisa menggagalkan upaya meneguhkan kembali peradaban Nusantara dalam konstruksi Indonesia modern saat ini.
Karena kesadaran historis itulah, Presiden Soeharto mewasiatkan agar generasi penerus bangsa berpegang teguh pada Pancasila.
Tentu saja terkait paugeran Nusantara itu tidak mengesampingkan budaya asing yang juga membawa kemajuan bagi bangsa Indonesia.