28 Juni, Presiden Soeharto Buka Sidang Tahunan Menlu ASEAN Hingga Terima Surat Kepercayaan Dubes Bolivia
Memimpin Indonesia sejak 12 Maret 1967 hingga 21 Mei 1998, Presiden kedua RI, Jenderal Besar HM Soeharto terus melakukan perbaikan di berbagai bidang, mulai dari perekonomian, pendidikan, hingga hubungan internasional.
Presiden Soeharto terus berusaha menjadikan Indonesia sebagai negara yang disegani di mata dunia, bukan hanya segi militer, tapi juga diplomatik. Pak Harto bahkan berhasil menjalin persahabatan dengan sejumlah pemimpin negara, mereka pun membalasnya dengan pelbagai kerja sama yang menguntungkan bagi kedua belah pihak.
Inilah sejumlah peristiwa penting yang terjadi di tanggal 28 Juni selama pemerintahan Presiden Soeharto;
Presiden Soeharto Buka Sidang Tahunan Menlu ASEAN
KAMIS, 28 JUNI 1979 Presiden Soeharto pagi ini membuka Sidang Tahunan Para Menteri Luar Negeri ASEAN yang berlangsung di Pertamina Cottage, Pantai Kuta, Denpasar. Dalam kata sambutannya, Presiden mengatakan bahwa kesatuan sikap yang selama ini diperlihatkan oleh negara-negara ASEAN dalam menghadapi masalah-masalah dunia merupakan suatu langkah maju dalam usaha memantapkan tekad untuk memberikan isi kepada organisasi regional ini. Dikatakan selanjutnya bahwa kesatuan sikap itulah yang membuat ASEAN tidak goyah dalam menghadapi suasana dunia yang sedang bergolak ini.
Lebih jauh dikemukakan oleh Kepala Negara bahwa dengan melihat pertumbuhan ASEAN, tidak berkelebihan bila kita menilai bahwa ASEAN telah tumbuh sebagai suatu kekuatan sosial-ekonomi potensial di kawasan ini. Menurutnya, kenyataan ini memberikan harapan bahwa wilayah kita akan berkembang menjadi suatu pusat kegiatan pengembangan ekonomi dalam rangka perwujudan Tata Ekonomi Dunia Baru. Dalam hubungan ini Presiden mengharapkan agar negara-negara maju dapat menunjukkan pengertian dan kesediaan mereka memenuhi cita-cita kita mewujudkan tata ekonomi dunia yang lebih adil, yang menjamin kesempatan yang sama bagi semua bangsa untuk maju dan hidup sejahtera untuk kepentingan perdamaian dunia yang abadi.
Presiden Soeharto Setujui Kerjasama IPTEK Indonesia-Hongaria
SELASA, 28 JUNI 1977 Menteri Negara Riset Prof. Dr. Sumitro Djojohadikusumo, setelah diterima Presiden Soeharto di Cendana hari ini menjelaskan bahwa Presiden telah menyetujui diadakannya kerjasama pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi antara Indonesia dan Hongaria. Kerjasama itu meliputi pengembangan pertanian campuran dan penggunaan radio isotop dalam bidang kedokteran.
Indonesia Menerima Tawaran Perancis Sebagai Ketua Bersama dalam Konferensi Penyelesaian Kamboja
RABU, 28 JUNI 1989 Indonesia menerima tawaran Prancis untuk duduk sebagai ketua bersama dalam konferensi internasional tentang penyelesaian masalah Kamboja. Tetapi penerimaan itu adalah dengan syarat yaitu harus dengan persetujuan para peserta konferensi tersebut. Demikian diungkapkan oleh Menteri Luar Negeri Ali Alatas setelah diterima Kepala Negara di Istana Merdeka pagi ini.
Presiden Soeharto Menerima Surat Kepercayaan Dubes Bolivia
RABU, 28 JUNI 1989 Pukul 09.00 pagi ini, bertempat di Istana Merdeka, Presiden Soeharto menerima surat kepercayaan Duta Besar Bolivia, Arnold Hofman-Bang Soleto. Pada kesempatan itu Kepala Negara mengatakan bahwa hubungan antara kedua negara yang dewasa ini lebih banyak terjadi di forum-forum internasional, perlu diikuti dengan peningkatan hubungan bilateral dan kerjasama dibidang pembangunan, termasuk dalam usaha untuk melindungi harga bahan mentah, terutama timah yang menjadi salah satu komoditi ekspor kedua negara. Presiden juga menegaskan bahwa merupakan hal yang sulit bagi Indonesia dan Bolivia dan bagi bangsa-bangsa yang sedang membangun lainnya untuk melaksanakan pembangunan dalam suasana dunia yang penuh konflik dan ketegangan.
Selain hubungan Internasional, di 28 Juni, inilah sejumlah peristiwa penting yang terjadi di kancah Nasional selama pemerintahan Presiden Soeharto.
Pejabat Presiden Soeharto: Sejarah Perjuangan Bangsa Tidak Lepas Dari Perjuangan Partai Politik
RABU, 28 JUNI 1967 Pejabat Presiden dalam amanatnya kepada PNI/FM menyatakan bahwa sejarah perjuangan bangsa Indonesia tidak dapat dipisahkan dari sejarah perjuangan partai politik. Sejarah perjuangan telah mencatat bahwa PNI sejak semula telah meletakkan dasar dan cita-cita kemerdekaan pada landasan nasional dan sosialisme, yang akan diwujudkan dan ditumbuhkan di atas kepribadian Indonesia. Dasar dan tujuan perjuangan bangsa Indonesia yaitu mewujudkan masyarakat adil-makmur tidak boleh berubah. Dan setiap usaha penyelewengan, pasti akan ditentang oleh rakyat Indonesia. Dalam hal ini PNI sebagai salah satu partai besar yang sudah dewasa, hendaknya belajar dari pengalaman-pengalaman yang lalu, sehingga dapat menempatkan diri dengan tepat dalam kekompakan barisan baru.
Usai Menghadap Presiden Soeharto, Gubernur BI: Cadangan Devisa Menunjukkan “Titik Balik” yang Menyehatkan
SELASA, 28 JUNI 1983 Gubernur Bank Sentral, Arifin Siregar, dan Menteri Keuangan, Radius Prawiro, pukul 10.45 pagi ini menghadap Presiden Soeharto di Bina Graha. Mereka datang untuk melaporkan tentang keadaan keuangan negara saat ini. Usai menghadap, Arifin Siregar mengungkapkan bahwa cadangan devisa Indonesia sampai akhir Mei yang lalu berjumlah US$7,5 miliar. Sebanyak lebih kurang US$3,7 miliar dari jumlah tersebut berada di Bank Sentral, dan US$3,5 miliar berada pada bank-bank devisa lain. Menurut Gubernur Bank Sentral, setelah dievaluasi ternyata keadaan cadangan devisa Indonesia menunjukkan adanya “titik balik” dalam arus penerimaan devisa yang menyehatkan keadaan ekonomi. Sementara itu keadaan pasar devisa sekarang sudah tenang dan tidak ada lagi spekulasi.
Menerima Raker Departemen Penerangan, Presiden Soeharto: Hidup Merupakan Perjuangan yang Tiada Habisnya
KAMIS, 28 JUNI 1990 Presiden Soeharto pagi ini di Bina Graha menerima para peserta rapat kerja Departemen Penerangan. Kepala Negara mengemukakan kepada mereka bahwa dewasa ini kita juga melihat tanda-tanda menyusutnya masalah-masalah politik dan militer di dunia yang digantikan oleh masalah-masalah ekonomi serta kemanusiaan yang bergerak makin menonjol. Hal ini menunjukkan bahwa kita sedang mulai bergerak maju menuju kearah terwujudnya dunia yang lebih aman, lebih makmur dan lebih bersaudara.
Kita beruntung hidup dalam zaman yang makin cerah ini. Tentu saja perkembangan-perkembangan tadi tidak berarti susutnya seluruh masalah politik dan militer yang ada. Kita juga tidak boleh mengira akan ada sorga di muka bumi dalam waktu yang tidak terlalu lama.
Hidup memang merupakan perjuangan yang tidak habis-habisnya. Manusia tetap akan merupakan manusia dengan segala kekuatan dan kelemahannya. Menghadapi hal-hal itu selain harus menyiapkan seluruh potensi bangsa untuk memanfaatkan peluang yang terbuka, kita juga harus tetap selalu waspada terhadap perkembangan-perkembangan yang bisa merugikan.