ADAT MENAMPI
Oleh: Prof. Dr. Bustami Rahman, M.Sc*
Menampi adalah pekerjaan wanita masa dahulu untuk menyeleksi butiran beras sebelum ditanak menjadi nasi. Alat untuk menampi adalah tampi atau tampah (Jawa) yang umumnya terbuat dari anyaman bambu.
Yang menarik adalah cara kerja dari menampi. Ini adalah teknologi adat tradisi. Minimal ada dua gerakan. Gerakan pertama adalah menggerakkan atau menampi secara vertikal. Tampi digerakkan turun naik dengan hentakan ringan dan sedang. Gerakan ini untuk memulai mengintegrasikan butiran-butiran yang berbeda kualitasnya agar terseleksi dengan baik.
Gerakan yang kedua adalah dengan cara memutar ke arah kiri secara horizontal. Gerakan ini akan menempatkan butiran yang tidak/ atau kurang berkualitas menyingkir dengan sendirinya ke arah pinggiran tampi. Dengan demikian, butiran beras yang berbobot dan berkualitas yang dicirikan oleh beratnya berkumpul atau memusat ke arah tengah.
Putaran atau gerakan ini adalah hasil kearifan lokal yang dilakukan turun temurun. Sekarang beras telah secara instan tinggal ditanak di ‘magic jar’ hasil olahan mesin pabrik beras.
Gerakan menampi adalah gerakan yang bersifat evolutif yang secara alamiah terjadi di alam semesta. Konon menurut sebagian pakar fisika, berkumpulnya berbagai mineral di bumi di sekitar katulistiwa adalah hasil putaran bumi yang bergerak memutar terus menerus, sehingga benda-benda bumi yang berbobot, yang lebih berat, terakumulasi di bagian tengah bumi. Jadi, ini proses evolusi akibat ‘tampian alamiah’.
Proses yang bertentangan dengan gerakan evolusi disebut gerakan involusi. Gerakan ini bertentangan dengan sunnatullah atau hukum alam. Gerakan ini tidak memutar ke kiri, tetapi ke kanan atau ke arah yang tidak beraturan. Gerakannya lebih bersifat sentripetal, bukan sentrifugal.
Hukum adat menampi dan hukum alam tampil secara serasi. Apakah hukum sosial politik juga serasi dengan kedua hukum itu?
Seharusnya seleksi sosial atau seleksi politik selaras dengan hukum evolusi. Jika bertentangan, maka implikasinya akan negatif.
Sistem politik misalnya. Apakah Pemilu dengan menggunakan sistem PT 20 persen itu mengikuti hukum evolusi ataukah justru involusi? Jika evolusi, maka hasil Pemilu akan ‘tertampi’ dengan baik. Hasilnya berupa para pemimpin yang berkualitas seperti beras yang telah terseleksi siap tanak. Jika involusi bagaimana? Ya bagaikan makan nasi dari beras yang tidak tertampi dengan baik. Begitulah analoginya kira-kira ya.
Salam.
(*Prof. Dr. Bustami Rahman, M.Sc, adalah Pengamat Sosiologi)